Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 April 2014

Baby Blues Syndrome


Duduk jongkok sambil ngayun2 bayi, ngalamun, dan mrembes mili air matanya dengan muka memelas, hampir mirip dengan kisah Mae di film Get Married yang sedang mengalami baby blues syndrome, bedanya Mae nangisnya kenceng dan anaknya kembar 3. Pasca melahirkan Hamzah, aku sering mengalami gejala-gejala baby blues syndrom seperti yang ada di artikel ini :

  • Rasa sedih dan depresi memenuhi perasaan ibu hingga menyebabkan ibu sering menangis
  • Emosi sangat labil, mudah marah, gampang tersinggung dan sering hilang rasa sabarnya.
  • Kerap kali ibu merasa kelelahan dan sering dihinggapi sakit kepala
  • Sering merasa kurang percaya diri
  • Sering mengalami rasa cemas
  • Mengalami kesulitan dalam berisitirahat atau susah tidur
  • Sering mengalami rasa takut akan berbagai hal





Yang paling kentara aku alami adalah poin kedua yaitu emosi sangat labil, mudah marah, gampang tersinggung dan hilang rasa sabarnya. Hamzah seperti bayi lainya membutuhkan perhatian ekstra siang dan malam, parahnya aku termasuk orang yang staminanya kurang baik sehingga saat aku sangat mengantuk aku tidak bisa langsung bangun dengan segar untuk melakukan suatu hal, padahal bayi sudah menangis minta nenen. Apalagi, Hamzah kalau nenen suka berhenti sebelum kenyang karena sangat mengantuk dan saat ia masih merasa lapar ia akan terbangun lagi dalam rentan waktu yang tidak lama. Baru setengah jam tidur, bangun lagi dan seterusnya. Itu terjadi diatas jam 12 malam, saat semua orang tidur dengan lelapnya. Kadang, saat seperti itulah aku emosi dan setelah emosi lalu merasa bersalahlah aku dan akhirnya menangis.
Lebih parahnya, aku jadi sering melamun memikirkan kata2 orang yang tertuju padaku. Kadang kata2 atau tingkah yang sepele pun menjadi masalah buatku apalagi datangnya dari orang terdekatku : suamiku. Maklum, aku masih belum mau ketika kasih sayangnya sewaktu aku hamil kini berkurang drastis dan beralih kepada Hamzah. Biarpun sempat dikasih tau bpk2 di kereta tentang hal itu, aku tetap belum terbiasa menerimanya. Hanya saja petuah bapak2 itu tidak membuatku kaget mengalami hal ini dan sedikit siap. Namun, apapun itu yang terjadi, menjadi orang tua memang perlu diuki kesabaranya dengan hal-hal seperti itu. Aku sadar, tidak selamanya aku bisa bermanja-manja karena aku sudah menjadi ibu yang seharusnya memanjakan anak dengan bijak. 


Selasa, 18 Maret 2014

Kereta Cinta

08 November 2013

Hari semakin gelap, kutengok lagi jadwal keberangkatan keretaku ke Jakarta hari ini : pukul 18.00. Sekarang sudah pukul 17.30 sementara Iim belum juga datang bersama motor yang akan mengantarkanku ke stasiun. Dia sempat tidak setuju aku pergi karena baru 15 oktober lalu aku pergi ke Jakarta dan kuliah tidak libur,juga keadaan hamilku yang membuatnya kawatir, tapi aku tidak mau elewatkan momen ini maka apapun kuperjuangkan, dan kukatakan padanya 'cinta itu butuh pengorbanan'.
Ragu-ragu, masih bisa sholat dulu ga yah....tapi belum terdengar adzan maghrib juga. Akhirnya Iim datang membawa kepanikan yang hebat. Haha terang saja, kereta ini penting sekali. Harganya aja mahal 170 ribu, apalagi waktunya sangat genting, kalau aku gagal berangkat aku akan kehilangan momen penting.
Aku langsung melaju ke stasiun Lempuyangan, yap nyampe pukul 17. 50. Aku buru-buru, dan begitu sampai di pengecekan tiket ternyata keretaku berhenti di stasiun Tugu. Wah, gawat. Beruntung aku masih bisa tenang dan jalanpun muncul di depan mata. Tukang ojek menawarkan diri dan aku langsung saja mau tanpa fikir panjang lagi. 7 menit waktu untuk sampai ke Tugu. Alhamdulillah....
Aku langsung berlari lagi, turun tangga, naik lagi....terjatuh....dan salah kereta. Keretaku di seberang, kehilangan 1 menit saja, aku kehilangan momen penting itu. Alhamdulillah petugas masih bisa memberi peringatan kepada masinis untuk tidak jalan dulu, dan  keretamasih bisa terkejar...Huuh hah huh hah...
Aku baru ingat, aku membawa bayi dalam perutku. Bagaimana keadaanya ya?

Setelah aku menemukan tempat duduku, aku begitu lega karena tidak terlalu sempit, hanya ada seorang pemuda duduk dihadapanku. Aku lalu sholat maghrib dan tiduran sambil menunggu supaya cepat sampai. 
Waktu itu aku hamil baru 4 bulan, keadaan tubuhku belum stabil, untuk duduk dalam waktu yang lama memerlukan sedikit usaha keras daripada biasanya plus kondisi perut yang masih labil juga yang kadang lapar tiba-tiba. Beruntung malam itu cepat berlalu dan aku bisa tidur di kereta. Pemuda yang di depanku juga baik karena ia meninggalkan kursinya sehingga aku bisa selonjoran di kursinya. Namun, bapak2 gendut disebelahku sedikit membuatku tidak nyaman karena tempatku jadi sempit. Malam berlalu, pemuda di depanku tidur di lantai kereta, ia seorang backpacker, tau kan aku selalu tertarik dengan kegiatan backpacking? sejak tadi kami memang belum memulai ngobrol, hingga akhirnya pertanyaanku mengawali pembicaraan kami. Kami saling bertukar cerita tentang kehidupan kami. Rupanya dia tertarik dengan kehidupanku dan aku tentu saja langsung mengulik2 pengalamanya tentang bagpacking. Kami baru mulai mengobrol setelah dini hari, waktu itu sampai Bekasi, jadi hanya sebentar ceritanya yang aku dapatkan dan sampailah kami di Stasiun Jatinegara.

Aku hendak menunaikan sholat isya, tapi mushola stasiun ditutup hingga aku menunggu bersama beberapa orang lainya. Kami duduk lesehan, mirip orang-orang terlantar..hehe. Setelah mushola dibuka dan kami sholat isya, aku lalu menunggu subuh dan akhirnya aku melanjutkan perjalan ke tempat yang kutuju. Aku sengaja tidak memberitahu orang yang akan kutemui karena ini momen penting. Aku lalu naik ojek yang sebenarnya aku agak kawatir karena belum pernah, tapi aku yakin pasti tidak akan terjadi apa2 dan akupun naik ojek. Hmmmmm dini hari kota Jakarta terasa lenggang dan lumayan sunyi, mungkin 15 menit  lagi suasana seperti kala itu sudah berubah drastis.

Subhanalloh, aku sampai dengan selamat dan tepat waktu. Aku datang dan waktu itu ibu mertuaku sedang di teras rumah, wauww sangat kebetulan. Aku dibukakan pintu dan masuk, aku langsung menuju kamar suamiku untuk momen ini. Ini adalah ulang tahunya...yeaaaay surpriseee aku dataang....

Aku membangunkanya dan dia menikmati kedatanganku meskipun tanpa kado ditanganku...
Hanya kemudian aku menyelipkan tulisan dibawah ini di laptopnya yang aku harap saat ia membukanya di kantor, ia bahagia :

Happy Birthday...Happy Birthday.....
Hari ulang tahunmu tiba dan aku benar-benar tidak tahu apakah kado istimewa yang tepat untuk kamu. Aku tidak bisa membuat apa-apa dengan tangan tak berbakat ini. Aku juga tak bisa membelikanmu apa-apa. Aku sudah bertanya kepada udara : “udara, kado apa yang bisa kuberikan untuk suamiku?” Ia menjawab : ”Berikan aku wewangianmu untuk kukirimkan kesana”. Ah, jawaban itu tidak masuk akal. Bagaimana bisa aku memakai wangi-wangian lalu wangiku dibawa udara ke tempatmu? Lalu aku bertanya pada langit-langit kamar : “Tahukah kau, kado apa yang bisa kuberikan pada suamiku?” Ia berfikir. Satu hari, dua hari, tiga hari, masih berfikir dan belum menjawab pertanyaanku. Dinding yang mendengar tanyaku pada langit-langit kamar tiba-tiba memberi saran : “Sebaiknya kau hancurkan saja aku, supaya dia bisa melihatmu menyanyikan lagu ulang tahun dari sini”. Kemudian langit-langit kamar menimpali : “Tidak, tidak mungkin itu mustahil. Lebih baik kau turunkan aku dan kau akan bisa melihat bintang yang sama dengannya, lalu berikan pesanmu pada bintang itu katakan “selamat ulang tahun”, cahayanya akan sampai padanya bersamaan dengan pesanmu.
 Ah aku tidak mengerti dengan ide-ide tidak masuk akal dari mereka semua. Harus bertanya pada siapa lagi aku? Aku malu bertanya kepada Tuhan tentang ini, karena Ia lebih berwenang menghadiahimu nikmat yang tak terhitung. Kalau sudah begini, matilah aku yang tak punya apa-apa ini.
Tiba-tiba, sesuatu bergerak-gerak di dalam perut dan menyeloteh : “Aba ulang tahun ya? Aku mau ngucapin selamat ulang tahun buat Aba, juga mau ngucapin terimakasih karena selalu sayang sama aku, selalu semangat kerja buat aku, dan memberikan yang terbaik untuk aku. Ayo Ummah kita kesanaaaa aaaaa”.
Wah, dede kecilku menangis...tapi, bukankah ini jawabanya? Yap, cerdas....aku tidak perlu mengirim wewangian lewat udara ataupun menghancurkan dinding-dinding, dan menurunkan langit-langit kamar untuk mengucapkan selamat ulang tahun padamu. Aku hanya perlu mendoakanmu dan menuruti dede kecil ini. Karena Tuhan yang bisa memberikan kebahagiaan untukmu, mungkin salah satunya dengan perantara calon bayi ini. Kami mencintaimu sayang, selamat ulang tahun..semoga Allah memberkahi sisa umurmu, semoga tercapai apa yang kamu cita-citakan dan semoga tetap sayang selalu sama kami. Aamiin....

Ketika hati bicara cinta
Hanya cinta sejati maksudnya
Yang menimbun rindu kala tak ada
Dan menyimpan doa jika berbunga

Stasiun dan bandara hanya sekedar penguat
Hujanpun  jadi pengingat
Bahwa benar kaulah cintaku
Cinta bukan cinta maya

Dan kini tak lagi kudapatkan kata cinta
Untuk sekadar mengatakan aku cinta kamu
Karena cintaku tak berkata
Ia hanya bersemayam dalam dada


By : Your Wife & Child


Hanya itu yang bisa kuberikan, bahagiamu adalah segalanya bagiku sayang.....

Senin, 17 Maret 2014

Yeaah It's Maret

Ada apa dengan bulan Maret yah pemirsa....???
Ternyata bulan ini adalah bulan ke 9 usia kandunganku, tepatnya akhir bulan ini. Wah deg-degan ga sih menanti si buah hati lahir???
Enggakk
Bagi siapa yang ingin tahu perasaanku dalam menanti little baby, membaca blog ini adalah salah satu alternatif penyelesaianya. Mari kita simakk..

Bulan-bulan ini, pemeriksaan dd makin rutin yaitu seminggu sekali.Setiap periksa, Ibu mertuaku selalu yang paling intens menemani dan memperhatikan kesehatan dd di dalam. Segala upaya diusahakan supaya aku bisa lahiran dengan lancar. Beliau mengurus2 berkas2 dari KTP sampai BPJS supaya aku bisa dapat fasilitas kesehatan dari pemerintah Jakarta untuk keperluan lahiran dan lain-lain, sampai menyiapkan telor ayam kampung supaya proses persalinanku lancar. Terimakasih ibu....

Aku sendiri semakin H2C menanti dd lahir, apalagi melihat di sekelilingku banyak yang akhirnya sudah terjawab rasa penasaranya dengan kelahiran sang bayi mereka, mulai dari Ayu Ting-Ting, teman sekolah, teman di kampung, teman di pondok, dan teman suami.Aku sendiri sudah sering bermimpi tentang bayi, mungkin terbawa rasa penasaran ini kali yah...
Namun, dalam menanti kedatanganya, aku selalu menikmati hari-hariku bersamanya. Aku berusaha untuk selalu tenang dan bahagia, dan alhamdulillah lingkunganku selalu mendukung untuk itu. Aku punya suami yang sayang dan ibu mertua yang perhatian, juga orang-orang terdekat yang turut andil memberi perhatian padaku dan bayi ini, itu adalah anugerah yang tak ternilai. 

Banyak orang yang memberikan tips-tips dan pengalamanya tentang melahirkan.Mereka sangat antusias dan dari situlah aku mulai memahami betapa indahnya menjadi seorang ibu. Dari semua yang bercerita tentang pengalamanya, tidak ada satupun dari mereka yang terlihat menyesal telah melahirkan buah hatinya. Sesakit apapun rasanya orang melahirkan, mereka terlihat bahagia dalam menceritakanya. Dari situ aku menjadi semakin berhasrat untuk segera menjadi seorang ibu. Aku tidak takut menghadapi proses persalinan yang masih misterius ini. Andaipun terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, aku serahkan semuanya kepada Yang Maha Berkehendak. Melahirkan adalah kodrat seorang wanita, oleh karena itu aku ingin melahirkan anakku secara normal. Ada harapan yang begitu besar dalam proses persalinan, bayi yang imut akan menghapuskan seluruh rasa sakit yang mungkin terjadi. Dan, melahirkan adalah sebuah perjuangan antara hidup dan mati. Dan kemungkinan yang muncul adalah bertemu denganNya atau sang bayi..bukankah itu suatu yang sangat indah???? Subhanalloh.....

Dengan masih terpenuhi rasa penasaran, aku menulis ini dan dengan mengharap doa kalian semoga persalinanku lancar dan lahir menjadi anak yang sehat, sempurna, sholeh, cerdas, berbakti, dan bahagia.. Aamiin

Nikmatilah bahagianya seorang ibu







salam bahagia
@bbusmile

Rabu, 26 Februari 2014

-ddkusmile ^_^

Ini udah minggu ke 33 bayi kecil ada di rahimku.. Dia udah makin lucu loh. Nendang-nendang, main-main setiap harinya. Bahkan, di malam yang larut dia masih sering bergerak-gerak, mungkin lapar tuh. Sekarang dia makin jarang bobonya, cuma sebentar doang. Alhamdulillah sekarang udah bareng sama Abanya, jadi ga cuma main sama aku.Kemarin dd baru beli baju bayi sama popok,hehe imut-imut banget, makin ga sabar nunggu dia lahir. Abanya sayang banget sama dia, dia kebangganya banget. Memang sejak dulu Abanya dd pengin anak laki-laki, bahkan sebelum menikah dan kenal sama aku. Dulu Abanya dd, pacarnya orang-orang keturunan arab yang cantik-cantik. Abanya dd sudah bercita-cita punya anak laki-laki yang dinamakan Hamzah. Waktu aku tahu kalau Hamzah itu nama yang direncanakan sama pacar-pacarnya dulu, aku cemburu, tapi sebenarnya aku suka nama Hamzah karena itu nama pahlawan muslim yang gagah dan pemberani. Akhirnya aku setuju kalau mau dinamai Hamzah. 

Banyak sekali keajaiban yang aku alami selama dd ada di perutku. Trimester awal dia membuatku merasakan gangguan tubuh akibat perubahan hormon. Aku pusing-pusing dan muntah-muntah, bahkan sampai tidak enak makan. Dibalik itu aku sedang beradaptasi dengan duniaku yang baru dan aku mendapat pelajaran bahwa menjadi seorang ibu tidaklah mudah. Pelajaran ke dua adalah bahwa sosialisasi sangat penting untuk menjalani hidup di masyarakat. Ini semacam seleksi alam, siapa yang tidak bisa menyesuaikan dengan lingkungan akan gugur dan aku termasuk yang gugur karena belum bisa beradaptasi dengan masyarakat sebagai seorang ibu-ibu pada umumnya. Aku masih terbawa kebiasaan lama sebagai anak dan pelajar yang masih ketergantungan dengan orang-orang di sekitar. Sedangkan pada saat itu aku dilepas sendiri di masyarakat yang bukan lingkunganku dan aku sendiri, karena suamiku di Jakarta. Beruntung aku masih punya teman-teman yang kadang berkunjung. 

Trimester kedua, dd sudah menonjol di perut. Aku sudah bisa mengajaknya bicara dan mendengarkanya musik, tapi aku masih merasa sangat malas melakukan apa-apa. Aku kuliah dan mengaji hanya datang untuk hadir, tidak serius sama sekali. Aku terus mencoba bersabar bertahan di masyarakat itu. Hal yang terus menguatkanku yang pertama adalah kuasa Allah. Yang kedua, cita-cita aku dan Abanya dd. Abanya dd ingin aku selesaikan kuliahku, aku juga. Hanya dengan bertahan dengan keadaan ini sampai semester ini habis baru aku bisa memungkinkan menyelesaikan kuliah. Saat-saat yang beratpun harus kulewati dengan tetap berusaha merasa tetap gembira. Aku tidak mau banyak pikiran, karena kasian dd kalau aku stress akan mempengaruhi psikologisnya juga. Dd pun akhirnya sudah bisa menghiburku, dia sudah bisa menendang dan semakin aktif gerakanya. Pada trimester yang ke dua ini, aku mendapatkan pelajaran bahwa setelah menikah, kita akan punya saling ketergantungan yang sangat tinggi dengan pasangan. Dan satu lagi, karena pada saat itu aku sering bolak-balik dengan kereta menurutku hidup ini adalah suatu perjalanan dan tidak selamanya kita berada di dunia ini.

Akhirnya saat yang ditunggu datang juga. Datalanglah trimester ke tiga dan selesailah semester 5ku sehingga aku bisa meninggalkan tempat pengasinganku. Aku tinggal di kampungku selama 20 hari lalu dilanjutkan ke Jakarta. Di kampung, aku banyak merenung tentang hidup ini. Aku melihat kedua orang tuaku yang bekerja setiap hari untuk hidup sekeluarga dan sekarang aku sudah menjadi orang tua tetapi sedikitpun belum pernah memberikan sesuatu kepada mereka. Aku juga mengamati kebiasaan di desaku yang sudah aku lupakan, ternyata masih sama seperti dulu. Mereka bekerja seperti biasa : membuat genteng seperti Mama dan Bapakku. Kadang aku berfikir apa mereka tidak bosan, apa mereka tidak ingin hidup yang lebih baik? Tapi aku sendiri merasakan kenyamanan jika berada di kampung halamanku sendiri walaupun dengan kehidupan yang begitu-begitu saja. Itulah yang aku bilang zona nyaman. Mungkin akan susah untuk maju kalau kita sudah nyaman dengan suatu keadaan.
Kemudian, setelah tiba saatnya aku datang ke Jakarta, aku harus menjalani hidup yang sepi lagi di sini. Aku tinggal bertiga dengan suamiku dan ibu mertuaku. Sebenarnya aku sangat ingin menjadi ibu rumah tangga yang sempurna dan mandiri seperti orang lain. Aku ingin mengurus suami secara eksklusif : memasak untuknya, mencuci dan menyetrika bajunya, dan merawatnya sepenuh hati untuk menjadi istri yang baik. Namun, karena kita masih tinggal di rumah orang tua suamiku, aku tidak begitu leluasa melakukan itu semua. Aku masih terpaku pada peraturan rumah ini dan beberapa pekerjaan rumah dikerjakan oleh ibu mertuaku. Sebenarnya tidak enak juga, aku hanya nyapu dan ngepel aja tapi kalau diambil positifnya banyak enaknya juga jadi tidak terlalu repot mengurus rumah, apalagi aku orangnya malesan.
Ibu mertuaku orang yang rajin dan sangat teliti, beliau juga sangat perhatian dengan anak-anaknya. Karena tinggal suamiku yang serumah dengan ibu, beliau memfokuskan diri mengurusnya, padahal aku kan seorang istri yang pasti juga ingin mengurus suami. Jadi, antara aku dan ibu mertua seperti terjadi perang dingin untuk berlomba seperhatian mungkin dengan satu orang yang sama..haha lucu ya. Kadang, aku juga menangkap pertentangan batin suamiku yang bingung antara memilih istrinya atau ibunya.
Untuk masalah berpendapat dalam menentukan suatu hal, sebagai seorang istri tentu aku ingin punya andil dalam keputusan yang akan dimbil, tetapi sebagai seorang anak, suamiku masih sangat bergantung pada ibunya. Awalnya sih aku tidak keberatan dan santai saja menerimanya, tetapi suatu saat ada seseorang yang berpendapat bahwa seorang suami harus bisa menentukan keputusanya sendiri untuk hasil yang terbaik karena ia sudah menjadi pemimpin dari keluarganya. Aku jadi berpikir dan merasa berontak, ingin aku katakan itu pada suamiku supaya ia tidak selalu mengikuti kemauan ibunya saja. Namun, aku merasa tidak punya hak untuk itu dan akhirnya nasehat Mamaku mulai merubah fikiranku lagi. Menurut Mama, memang seorang istri itu pertama harus patuh pada suami baru orang tuanya, tetapi seorang laki-laki tetap yang pertama adalah patuh terhadap orang tuanya terutama ibu, jadi jangan sampai menjadi istri yang membawa suaminya untuk tidak patuh pada ibunya. Akhirnya sekarang aku mulai menerima lagi posisiku.
Suatu hal yang bisa aku ambil pelajaranya adalah bahwa untuk membangun rumah tangga kuncinya adalah bersyukur dan menerima karena banyak contoh kegagalan rumah tangga yang disebabkan karena kufur.

Dan perjalanan rumah tangga kami masih panjang di depan sana, tentu tidak semulus yang dibayangkan karena pasti akan banyak ujian yang Allah berikan, semuanya tidak lain adalah untuk membentuk diri yang semakin kuat, dewasa dan dekat denganNya. Hadapi dengan selalu berusaha untuk tersenyum karena aku harus tetap menjadi bbusmile dan aku akan punya anak yang bahagia dan selalu berbagi senyuman 'ddkusmile^^' insyaAllah.

Rabu, 19 Februari 2014

My New Family

Inilah keluarga baru saya....tereng tereng......
Ibu mertua, kakak ipar, eyang dan akuu

Kalo ini, teman2 baru saya
ERU itu nama grup persahabatan suami, terdiri dari : Adit, Suamiku, dan Irul yang masing-masing berpasangan : Tannia, aku, dan Asri




Kami sudah seperti keluarga, padahal kami terdiri dari berbagai latar belakang yang sangat berbeda.
Adit-Tannia, adalah pasangan yang saat ini belum menikah. Mereka asli Jakarta dengan latar belakang kehidupan Jakarta juga. Aku dan Suamiku, sama-sama keturunan Jawa. Suamiku lahir di Jakarta dan hidup dengan latar belakang kehidupan Jakarta tetapi masih menghargai adat ketimuran dan sempat mengikuti kehidupan orang-orang keturunan Arab karena pergaulanya. Irul-Asri, pasutri yang berasal dari Medan. Kalau dilihat, mereka benar-benar sedang belajar berumah tangga dengan baik.

Adit, Suamiku, dan Irul sudah lama saling mengenal, dan tidak diragukan lagi keakraban mereka. Namun, Tannia, Aku, dan Asri baru saling mengenal dan kami masih banyak perlu penyesuaian. Ketika Tannia yang beragama nonmuslim dengan aku yang pernah mampir di pesantren dan Asri yang muslim juga saling mengobrol, masih ada banyak hal yang perlu disinkronkan. Pun dengan Tannia yang modern, sementara aku dan Asri yang tidak begitu punya banyak kesempatan untuk memodernkan diri saling berbicara suatu topik, pasti masih ada banyak ketidaksinambungan. Namun, kami tetap saling menghargai dan menghormati satu sama lain. 

Aku datang untukmu

Aku banyak mempelajarimu dan masa lalumu
Entah mengapa setelah itu aku menjadi galau
Merasa tak dapat menjadi bahagiamu

Kau yang dulu, punya banyak warna dan kebahagiaan dalam hidupmu. Cintamu pada wanita-wanita cantik dan indah mewarnai masa mudamu. Kenangan-kenanganmu begitu banyak dan indah. Kaupun sampai punya mantan terindah.
Aku tahu aku salah berpikir begini. Seharusnya aku tahu kau telah berubah. Seharusnya aku tahu kau telah menjadikanku wanita terbaik dalam hidupmu.
Maafkan aku, aku hanya takut kau berpaling. Dan ketakutan ini sangatlah salah besar, maka aku hanya ingin menghapuskan ketakutan ini dengan menulis.

Aku harus percaya bahwa kau adalah laki-laki terbaik dalam hidupku. Aku juga harus percaya bahwa kau yakin akulah wanita terbaik dalam hidupmu setelah ibumu.

Dan aku yakin, aku datang untukmu karena Allah.

Kamis, 06 Februari 2014

My New Life



Memang sudah lama cerita ini terjadi, tanggal 7 Juli 2013 lalu tepatnya. Namun, baru awal Februari 2014 ini aku mulai benar-benar menjalani hidup baru bersama seperti orang-orang kebanyakan. Pertama, aku ingin ucapkan terimakasih telah menungguku di Jakartamu, suamiku. 6 bulan kita jalani dengan berbagai lika-liku : pulang pergi Jakarta-Jogja-Kebumen plus long distance marriage yang terasa tidak begitu mengenakan, akhirnya kita disatukan lagi untuk mengarungi samudera rumah tangga bersama dalam satu tempat. Alhamdulillah.

Kini, aku mulai mencoba menata dan beradaptasi untuk menjalani hidup selanjutnya di sini bersamamu dan ibumu.

Our Baby


Bayi kita sudah berumur 7 bulan dalam kandungan. Sudah banyak cerita yang ia alami selama di dalam perutku. Terimakasih telah turut menyayanginya sepenuh hati ya. 
Di post lain akan kuceritakan khusus tentang pengalaman dan hari-hariku bersamanya :)



Jumat, 01 November 2013

Tai Ayam

Hari ini, hari pertama di bulan November. Hari permulaan memang pas untuk ajang perbaikan, mulai untuk berubah dan memperbaiki kesalahan yang telah lalu. Tidak terkecuali diri ini yang merasa tidak melakukan hal berguna sama sekali selama beberapa bulan terakhir. Aku juga ingin berubah menjadi lebih baik, menjadi lebih berguna dan tidak menyia-nyiakan waktu.

Mulai dengan pagi yang kubuka untuk mengerjakan tugas dosen yang dikumpul hari ini. Sukses, selesai jam setengah 7 dan ada waktu sedikit untuk bersiap-siap berangkat. Feelingnya sih belum mulai kuliah, karena temen-temen belum kedengeran pada masuk deh.
Nyantai, sampai kampus jam 7 lewat 15. Pas turun dari motor, eh ada bau-bau ga enak deh. Pas banget mata sama hidung bekerja sama akhirnya kulihatlah apa yang seharusnya tidak kulihat yaitu : Tembelek Ayam atau lebih keren disebut Tai Ayam nangkring di badan motor. Wek, pantes aja bau. Untungnya tai ayam itu udah kering, jadi ga makin bau dan ga nempel di rok. Tapi tetep aja rasanya risih, hihi.
Ribet bukan main hari ini karena bawa kamus super gede yang melorot terus dari motor, ih. Pas mau dibawa ke kelas, aku sms teman dan dia katanya ga masuk. Yaudah kamusnya kubalikin ke motor.
Aku duduk dan minum dulu di kantin sambil kebayang bau tai ayam itu (ih minumanya jadi ga enak tuh? Enggak kok biasa aja..heheh)
Lalu naiklah aku ke lantai tiga dan melihat kelasku yang kosong. Wah kebetulan, aku emang udah kepengin pulang nih gara-gara tai ayam.
Aku masih punya tugas untuk dikumpul hari ini dan belum print, lalu pergilah aku ke tempat ngeprint. Kebetulan tempat ngeprintnya dekat warung makan, dan aku juga punya tugas memberi makan malaikat kecil di perutku maka jadilah aku makan dulu.
Makananya sih enak, tapi perutku terasa penuh dan tidak enak. Daripada muntah-muntah dan nasi yang tersisa dibuang, aku minta nasi sisaku dibungkus (padahal tinggal dikit banget,,hehe).
Aku lalu ngeprint dan selesai, aku kembali ke motor yang masih tertempeli tai ayam itu,hii.
Aku dapat rejeki berupa muka masam seorang ibu-ibu yang warungnya aku tempati motorku. Tadi kan warungnya tutup, eh udah buka. Ibu-ibunya cemberut gitu. Pas aku ambil motornya eh sepeda sebelahnya (mungkin punya ibu itu) jatuh,,wah tambah takut aku. Aku buru-buru pergi dan sedikit minta maaf sama ibu itu. Pas aku naik, yah kamusku jatuh lagi. Ribet deh.
Akhirnya sampai aku di kampus dan pas mau ngumpulin, aku ketemu pak dosen. Katanya nanti aja sekalian masuk. Wah berarti ga libur ya...Aku ga jadi pulang lagi, dan nunggu masuk sambil ngeblog. Pas waktunya masuk, ternyata ga jadi kuliah karena yang masuk cuma sedikit. Waaaa
Yaudah deh ngeblog lagi, nulis tulisan yang ga jelas ini. Tulisan yang ga pantes untuk dibaca seperti tai ayam yang ga pantes untuk di lihat. Sekian dan terimakasih.

Kamis, 31 Oktober 2013

I'm brave

Lagi- lagi ini adalah cerita kehidupan..

Judulnya : Aku Berani
Cukup berani kan untuk mengatakan bahwa diri sendiri ini berani. Berani sekali aku mengaku kalau aku berani. Iya kan? 
Aku benar-benar merasa menjadi seorang pemberani. Aku berani tinggal sendirian. Aku berani pergi ke Jakarta sendirian. Aku berani pergi ke Stasiun jam 4 pagi sendirian. Aku berani pulang dari Stasiun jam 8 sendirian. Lihat, aku pemberani kan? 
Aku tidak tahu mengapa aku berani, rasanya sama seperti waktu aku keluar tengah malam untuk menjemput bapakku di masjid untuk memberitahukan bahwa mamaku akan melahirkan adikku yang terakhir, mengalir begitu saja tanpa takut. Aku tahu ini adalah salah satu bonus dari Tuhan yang patut disyukuri : menjadi perempuan yang berani.
Namun, aku merasa keberanianku sekarang lebih merupakan suatu dorongan. Lalu apa pendorong itu? 
Entahlah, ini seperti sebuah tanggung jawab agar aku tidak terlalu ketergantungan dengan orang lain. Aku merasa harus melindungi seseorang yang harus merasa aman dan tenang di dalam tubuhku. 
Ya, engkaulah yang atas izinNya dikirim untuk menguatkan aku, menemani langkah kehidupanku, menjadi sahabatku, malaikatku. Kuatlah juga di dalam sana, aku menunggumu bersama orang-orang yang menyayangi kita. Kita akan saling menyayangi, We love you my baby. 



Dunia menunggumu
Menanti hembusan nafasmu menyatu di udara
Menanti senyummu melintang di wajah polosmu
Menanti tangismu menjadi gelombang bunyi yang berlagu

Dengarlah sayang,
Suara hatiku yang berbahagia
Suara ayahmu yang bersemangat
Suara tante-tantemu yang ceria
Suara musik yang menenangkan
Akankah kau menyukainya?

Bergeraklah dengan lincah jika kau bahagia
Bermainlah sesukamu di dalam sana

Jadilah kau seperti langit luas
Yang memayungi sebentang alam ini
Semoga Allah memberkahimu selalu
Aamiin

Minggu, 09 Juni 2013

4J - Edited




Januari-Juli-Jogja-Jakarta


Detik-detik ini membawaku melayang menerawang ke alam antah berantah yang menyediakan istana penuh kasih untuk kita singgahi. Kau membimbingku ke alam itu dengan meletakkan tanganmu di atas punggungku, dan inilah pertama kalinya seorang lelaki melakukanya padaku. Merah mukaku andai kau melihatnya saat itu, dan beruntungnya kau tak tahu karena aku menyandarkan kepalaku di depan tas hitamku. Andai boleh, sebenarnya ingin hati sandarkan kepala ini di bahumu saja, tapi sayang Tuhan belum mengijinkanya.


Bis Kebumen-Jogja ini mungkin sedang menunggu cerita tentang kita. Maafkan aku sepanjang perjalanan kali ini aku hanya diam tanpa kata. Aku tau kau pasti mengerti dengan keadaanku yang mabuk kendaraan. Aku hanya bisa menerka-nerka apa yang sedang kau fikirkan saat ini, mungkin andai bisa kita tarik garis keluar dari dalam benak ini bisa saja kita bertemu dalam terkaan-terkaan itu. Ya, luar biasa bukan, kita bisa berkomunikasi tanpa kata-kata. Dan biarkan hati kita yang bicara.


Sampai akhirnya pembicaraan dua hati itu mengantar kita ke kota ini lagi. Kota yang kau dan aku sukai. Kota yang menurutmu unik karena ada sesuatu yang tidak ada dalam bayanganmu. Apa itu yang tak ada dalam bayanganmu? “Seseorang yang buta dan bisa menyanyi di sekitar Mall Malioboro”. Itu katamu. Kalau menurutku, kota ini tidak unik, tapi nyaman. Nyaman karena aku bisa melakukan apa yang aku suka : bersepeda dengan bebas dan aman, berkereta dengan nikmat, berbelanja dengan hemat, berteman dengan akrab, dan ada toko buku yang lengkap.


Tanggal satu Juni ini, kau sebut sebagai kencan pertama kita. Bahkan serba pertama, hujan pertama, kencan pertama, dan kereta pertama di bulan Juni. Kau selalu pandai mengambarkan keindahan dengan kata-katamu sampai aku terpana dengan ucapan-ucapanmu. Motivasi, harapan, cerita, ide, dan buah pikiranmu, semua kau ungkapkan dengan baik bersamaan dengan kekagumanku dengan kopi pertama di cafe Mall Malioboro ini. Meski agak lucu juga waktu kau dan aku saling berdebat tentang saus tomat dan saus cabe pada makanan di depan kita. Katamu yang saus cabe itu yang warnanya oren yang merah itu saus tomat. Tapi aku menyangkal, saus tomat ya yang warnanya oren, kan tomat itu warnanya oren. Cabai itu merah kan? Tapi, kemudian ketika terakhir kali kucoba lagi ternyata aku merasakan rasa tomat pada saus yang berwarna merah itu. Ah lebih baik diam, aku jadi malu karena setiap aku berdedebat aku bersikukuh dan aku salah.


Lalu, kau melanjutkan nasehatmu. Kau bilang, aku harus terbiasa dengan dunia seperti ini. Kau bilang juga, aku harus ingat dengan cincin yang telah kau pasangkan di jari manisku. Katamu, “Masa cincin udah melingkar di jari manismu tapi kelakuanmu masih aneh.” Kau bilang aku aneh waktu kau ingat tingkahku yang suka bersepeda sendiri, menyendiri, dan suka berjalan jauh. Aku jadi merasa lucu, waktu kuingat kau kelelahan ketika kita berjalan ke sawah, waktu kau menolak keras saat kuajak bersepeda. Aku semakin menikmati perbedaan ini. Kau tak suka olahraga, aku cukup suka. Kau tak mau repot, aku suka tantangan. Kau pandai berkomunikasi, aku kesulitan. Kau insomnia, aku tidur cepat. Aku tak pernah peduli dengan penampilan, kau sangat teliti dengan performa. Kata-katamu tinggi, aku hanya bisa berkata datar. Semua itu, indah.


Waktu kau mengajariku gaya hidup orang Jakarta, kau menjelaskanya dengan semua yang ada di Mall itu. Seandainya saat itu aku lebih leluasa mengingat, aku bisa katakan ini padamu “Orang-orang yang berbelanja di mall ini, mereka hanya sedang menghibur diri dengan membeli apapun yang mereka sukai, dibaliknya mungkin mereka punya kesedihan yang mendalam”. Sebenarnya kata itu aku jiplak dari cerpen Agus Noor. Aku memang lebih ingin mencontoh hidup ala Epicurean, bersumber pada pemikiran Epicurus, filsuf yang mendendangkan kebahagiaan hidup sederhana itu. Atau tidak jauh-jauh, hidup ala Rasulullah yang sangat sederhana itu. Tapi, aku juga manusia biasa yang tidak sehebat mereka, mungkin aku juga suka mencari hiburan seperti mereka-mereka yang berbelanja di Mall.


Sore ini, kau akan kembali lagi ke Jakarta, kota tinggalmu. Kau akan meninggalkan aku di sini,untuk sementara katamu. Oleh sebab itu, ijinkan aku mendengarkan setiap kata-katamu sembari berkeliling-keliling dengan becak ini. Selesai ngopi tadi, kau ajak aku naik becak, rupanya kau tak ingin menyia-nyiakan kesempatanmu menikmati kota ini ya? Aku sudah biasa bersepeda mengelilingi kota ini, aku juga biasa dengan pemandangan, suasana, dan keadaan di sini : Malioboro, alun-alun utara,alun-alun selatan, jadi bagiku tidak menarik lagi. Yang menarik itu, naik becak bersamamu dan mendengarkan ceritamu. Maka, aku suka hari ini. Hari bersamamu.


Kau ini membuatku spechless saat kuingat lagi pertemuan kita. Datangmu benar-benar kuasa Tuhan yang nyata. Saat itu, aku benar-benar tak mengenalmu dan tiba-tiba kau datang ke rumahku di Kebumen pada akhir Januari. Mama menyuruhku menemuimu karena katanya kau saudaraku yang ada di Jakarta. Anak kakaknya embah.


Esoknya kau memberiku surat yang berisi ajakanmu menjalin hubungan denganku(kau mengirim surat karena kau akan pulang ke Jakarta). Awalnya aku benar-benar tak menyangka surat itu benar-benar untukku. Kau ceritakan mengapa kau menuliskan surat itu. Kau bilang mama dan bapakku banyak menceritakan padamu tentang aku. Aku sangat takut dengan semua itu. Pasti mama dan bapak telah berlebihan menceritakan tentang aku, aku tidak suka itu. Aku takut kau kecewa. Aku hanya wanita desa yang telah nyaman dengan keadaan yang tak pernah membuatku berpikir untuk maju. Aku juga hanya wanita biasa yang tidak punya banyak kelebihan. Aku lalu mencari buku harianku dan ingin kutulis tentang hal ini. Saat aku ingin mulai memoles pena di atasnya, aku melihat tulisanku sebelumnya yang berisi doaku kepada Tuhan untuk meminta sahabat terbaik untuk hidupku. Dan akhirnya aku mencoba meyakinkan diriku bahwa mungkin kaulah jawaban doaku.


Saat itu, semua rasa bercampur dan saling bersuara dalam batinku. Sampai akhirnya aku mendengar suara paling bijaksana dari hatiku. Suara yang mengantarkanku sampai pada saat bahagia ini. Aku memberikan jawaban itu lewat sms ke nomor hp yang kau tulis di suratmu, dan mungkin kau lega dengan jawaban itu. Kemudian, tahukah kau apa yang menimpaku selanjutnya? Kalau kau menyimak, kau pasti akan benar-benar merasa bahwa hubungan kita langsung teruji. Orang-orang di masa lalu datang dan meyandung hubungan kita. Dan ujian itu juga yang akhirnya meyakinkan kita untuk menempuh jalan selanjutnya. Sampai kau membuat keputusan melamarku pada awal bulan Maret. Sejujurnya, aku takut dan bahkan sangat takut kalau kau kecewa dengan kenyataan bahwa diriku seperti ini : tidak cantik, tidak pintar, tidak gaul karena kita hanya berkomunikasi via hp. Sedangkan aku tahu kau sangat hebat. Tapi kau terus meyakinkanku, dan Tuhan menjawabnya pada istikhorohku.


Sampai pada malam itu, aku masih ragu apakah ini adalah sebuah kenyataan atau hanya mimpi di siang hari. Kau lingkarkan cincin di jariku dengan mantap. Dan aku juga melakukanya padamu, dan tahukah aku seperti bergerak tanpa kesadaran. Setelah itupun, aku masih mencaritahu tentang kenyataan yang sebenarnya. Satu hari kemudian, kau dan Ibumu mengantarkanku ke Jogja, tempatku mencari ilmu. Kita tak banyak bicara di dalam mobil. Aku masih punya alasan untuk diam saat itu. Satu, aku pusing di mobil, dua aku malu pada ibumu, tiga, aku ah itu hanya alasan-alasanku saja barangkali. Saat kita turun di Malioboro untuk jalan-jalan, kita masih banyak diam. Aku tahu, mungkin kau tidak nyaman dengan diamku tapi, aku lebih tidak nyaman untuk ngobrol saat itu. Maafkan aku yang egois ini.


Dan mobil itu menepi juga di tempat tinggalku di Jogja. Kau mungkin sangat kecewa dengan kediamanku, dan aku lebih kecewa dengan sikapku sendiri. Hingga perpisahan itu, aku benar-benar menyesalinya.


Ketika langkahku kuayunkan kembali ke Pondok yang kutinggali, aku masih bermata kosong. Teman-temanku memberi selamat kepadaku, dan aku tak tahu apa yang mereka selamatkan kepadaku. Sementara fikiranku terus mengantarkanmu kembali ke Jakartamu.


Hari demi hari terus berganti, aku terus menjalaninya dengan bayanganmu. Dan bayangmu semakin nyata ketika kau datang lagi tanggal 30 Mei. Kau ucapkan selamat ulang tahun padaku dan kau beri hadiah untukku. Gamis putih yang sangat indah, terimakasih ya. Dan untuk pertama kalinya aku tak berharap banyak ucapan yang datang padaku. Karena, sejujurnya kedatanganmu saja adalah kebahagiaan yang tak terhapuskan oleh apapun. Dan waktu itu, aku ingin menyambutmu dengan tak ingin mengulangi kesalahan Maret lalu. Aku ingin memasak makanan kesukaanmu. Aku mempelajari buku resep masakan dan membayangkan kau menyukai makananku. Pagi-pagi buta, aku pergi ke pasar dan mencari semua bahan yang kubutuhkan. Lalu, langkah demi langkah yang ada di resep kutempuh. Memang tidak semua langkah persis kulakukan, ini karena ternyata porsi yang akan kubuat berbeda dengan yang ada di resep. Aku menggumuli dapur hingga siang dan lama juga tak selesai-selesai. Sampai tanganku terkena parut dan mengeluarkan darahpun, aku tak merasanya karena aku bahagia. Tapi, ternyata hasil yang kudapatkan tidak seperti yang kuharapkan. Maafkan aku gagal menyambutmu lagi. Masakanku aneh dan tak enak.



Pertemuan kali ini kau berusaha mengakrabi orang tuaku dan aku menyukai itu. Aku bangga padamu. Dan pasti kau kecewa dengan aku yang tak bisa mendekati keluargamu. Mungkin kau maklum dengan kesulitanku berkomunikasi lisan, tapi aku sendiri tidak ingin memakluminya. Ini benar-benar menyulitkanku.


Satu Juni ini, kuantarkan kau ke stasiun Tugu dan akhirnya kau akan kembali lagi ke Jakartamu. Aku berharap kau simpan rapi harapanku utuk bersamamu di sana. Tolong sampaikan salamku pada Jakarta ya.


Masih saja ku teringat,

kata iringi kau pergi,

jadikan sore itu satu janji

Kau akan setia untukku,

kembali untuk diriku,

mengingatku, walau aku jauh






Akupun sempat janjikan,

ku kayuh semua mimpiku,

ku labuh tepat di kotamu

Dan kaupun s’lalu janjikan,

kau ‘kan menunggu ku datang,

bersatu kembali seperti dulu





Dan bila akupun rindu,

pada nyamannya kecupmu,

pada hangatnya tawamu

Ku dendangkan dengan gitar,

lagu-lagu kesayangan,

sambil ku ingat, indah wajahmu


Wo~o…





Tunggulah aku, di Jakarta mu,

tempat labuhan, semua mimpiku

Tunggulah aku, di kota itu,

tempat labuhan, semua mimpiku






Tunggulah aku, di kota itu,

tempat labuhan, semua mimpiku

Tunggulah aku, di Jakarta mu,

tempat labuhan, semua mimpiku




Kau sekarang telah membuatku percaya dan tak lagi bermimpi bahwa , jika Allah menghendaki, kita akan saling mencinta dalam dekapan ridhoNya yang indah. Dan cerita ini akan menjadi kisah cinta kita untuk anak-anak kita nanti. Dalam pelukan sang bintang, aku melihat langitpun berbahagia mendengar cerita kita. Jogja dan Jakartapun ingin merapat untuk menyaksikan kebahagiaan kita yang tak hanya di bulan Juni ini. Karena mereka telah menyimak kisah kita sejak Januari hingga Juli mendatang dan sampai akhir hayat ini.






Yogyakarta, 10 Juni 2013




Kamis, 02 Mei 2013

Hardiknas vs Harlah

Ulang tahun ya? Seharusnya pengucapan selamat ulang tahun itu kurang tepat si, karena kan jelas-jelas hari ulang tahun itu mengingatkan bahwa sisa umur semakin berkurang, tapi yang terjadi selama ini kita selalu mengucapkan selamat ulang tahun ya? Yasudah, sesuai fungsi dari ulang tahun, aku juga ingin mengingatkanmu bahwa sisa umur kita sudah semakin berkurang. 16 tahun hidupmu telah berlalu. Selama itu pula banyak yang telah kau lakukan. Dan tak terasa kau sudah menginjak masa remaja, dimana masa itu adalah masa yang penuh warna. Mungkin kau juga sudah merasakan jatuh cinta kepada lawan jenis. Itu wajar, tapi aku berharap  rasa itu kau bukanya membawamu kepada sesuatu yang tidak disukai Allah, tapi semoga kau menjaganya agar tetap sesuai fitrahnya. Aku yakin kau bisa melakukanya karena aku tahu kau juga punya benteng itu, benteng yang bernama "rasa malu". Maka, pergunakanlah masa-masa ini untukmu belajar lebih banyak, jangan seperti kakakmu ini yang sering menyia-nyiakan waktu.

Jangan lupa juga untuk senantiasa mendekati Allah, sholat subuh jangan siang-siang, sempatkan juga untuk qiyamul lail : jangan takut bangun jam 3 atau jam 4, karena kau akan ditemani suara eyangmu yang sedang mengaji, diam-diam aku di sini juga merindukan suara itu, lama sekali aku tidak mendengarnya.

Sebenarnya, kakakmu ini menyayangkan keputusanmu keluar dari pesantren, karena bagaimanapun dulu aku menyesal sekali karena baru masuk ketika usia sudah banyak. Malu belajar membaca "bismillah" (dengan harus dieja sampai betul lafalnya) bersama teman-teman sepantaranmu. Tapi lebih malu lagi seandainya sampai saat ini belum juga belajar, makanya pikir-pikir lagi.....

Oiya, maafkan aku karena selama kita hidup bersama, aku sering memusuhimu, sering bertengkar, dan sering menjahatimu "habis, mama pilih kasih sama kamu!". Tapi, sekarang kan sudah beda (walaupun masih gengsi).
Sekarang, kayaknya mama jahatnya sama kamu ya? Ssst, nikmatii saja : suatu saat kau akan merindukan omelanya. Jangan suka membangkang seperti kakamu dulu.

Yasudahlah, aku saja tidak banyak yang perlu dicontoh rasanya memberi nasehat itu seperti munafik. Tapi, tidaklah usah melihat siapa yang berkata, lihat saja perkataanya. Semoga dapat diambil manfaat. Kalau ada yang  baik dari kakakmu ini contohlah dan kembangkan, tapi jangan ambil yang jelek-jelek.




Sanah Khilwa, barakalah fi umrik.......

Senin, 22 April 2013

Lihat Dunia

Setelah buka mata, marilah kita melihat dunia. Pahamilah setiap detik waktu kita yang menyimpan makna. Rasakan sentuhanNya, nikmati, dan berbagi...

Hari ke 21 di bulan April, kami melakukan pengembaraan besar (wehhh,,,,seremm), engga ding, cuma main biasa hehe. Setelah memenuhi kewajiban dan rutinitas minggu yang padat, akhirnya kami dapat keluar sekitar jam sembilan pagi. Tujuan kami adalah melanjutkan misi ke Vihara. Namun, berhubung teman-teman Karomah belum mengkonfirmasi, terpaksa kami menunggu dulu. Kami menunggu di XT Square, sambil melihat-lihat fenomena minggu pagi di keramaian dan kebetulan kami belum pernah ke situ, jadi buat tambahan referensi aja lah,hehe.
 
Setelah kepanasan, dan konfirmasi sudah jelass...kami langsung bergegas ke Vihara. Kami naik motor lagi nih teman. Sudah sampai daerah Vihara, teman Karomah belum sampai, terpaksa kami menunggu di tempat bis-bis yang dekat Malioboro sampai lumayan lama. Kemudian kami masuk Vihara. Kami berempat : Aku, Karomah, Arif, dan Umar. Kami bertanya seputar agama Budha.Karena ini bukan tugasku, rasanya aku jadi tidak terlalu memperhatikan apa yang di jelaskan narasumber. Narasumber namanya Mas Upi. Aku hanya mendengar sedikit sekali, aku sempat bertanya juga beberapa yang membuat penasaran. Intinya, agama Budha itu, asalnya dari Nepal, India. Dulu, sang Budha menjalani hidup dengan pertapaan. Kemudian ia menemukan hikmah atau pencerahan tentang arti kehidupan. Kemudian hikmah2 tersebut ditulis oleh asistenya dan menjadi kitab suci Tripitaka. Oiya, inti ajaran Budha itu adalah : Penderitaan, sebab-sebab penderitaan, cara keluar dari penderitaan, dan lepasnya penderitaan. Kalo ajaranya sih isinya sama juga dengan agama-agama lain yaitu mengajarkan berbuat baik, beramal, dan lain-lain. Makanan orang-orang Budha lebih cenderung ke vegetarian. Oiya lagi, di Budha mereka mengenal adanya hukum karma. Kalau dia berbuat baik, pasti akan mendapat kebaikan tapi kalau berbuat jahat juga akan mendapat kejahatan. Atau dalam kehidupan kembali, orang yang hidupnya berbuat baik, nanti di kehidupan setelah mati akan terlahir sebagai manusia, dan yang berbuat jahat terlahir dalam bentuk hewan. 

Agama Budha merupakan agama yang mandiri, tidak lahir karena adanya wahyu tapi hasil dari perenungan. Kira-kira begitu yang aku ingat, (ga nulis coyy) 
Inilah kami di Vihara :

Sebenarnya itu Vihara campur klenteng. Klentengnya yang depan( yang itu) terus Viharanya di belakang, ga boleh di foto. 
Setelah selesai, kami pergi ke Masjid Kauman. Aku dan Karomah kelupaan memfoto. Aku merasa melihat agama kita jadi berbeda. Mungkin efek tadi di Vihara ketika kami melihat agama lain dari sudut pandang yang berbeda. Ketika aku melihat orang-orang sholat, pikranku jadi macam-macam = "ah sholat itu ritual keagamaan, sama seperti orang-orang di Klenteng dan Vihara tadi, apa bedanya agama kita dengan yang lainya?"

Budaya. Itulah kuncinya. Indonesia itu negara yang agamanya sinkretik : agama dan budaya dapat menyatu. Budaya itulah yang kulihat di Masjid Kauman sehingga membuat fikiranku seperti itu. Masjid Kauman itu sangat kental dengan tradisi Jawa. Dan agama-agama orang jawa itu sangat menyatu dengan budayanya, karena itulah tadi aku memandang agama kita hanya sebuah ritual. Hff, betapa berdosanya diri ini. Seandainya agama kita murni, tanpa ada campuran budaya yang mengharuskan ini itu seperti tradisi sekaten, tradisi apa lah macam-macam : sampai menentukan tanggal pernikahan harus dengan mengepaskan hari baik menurut orang dulu? 

Setelah jiwa ini kembali normal, aku baru melangkahkan kaki ke tempat wudhu bersama Karomah. Kami sholat, lalu menuju tempat selanjutnya. 

Kami pergi ke Malioboro. Jalan-jalan,dan.....
Karomah ingin foto bareng turis. Karomah juga ingin minum susu kedelai seperti dulu pas kami jalan bareng. Eh tiba-tiba Karomah nemu penjual susunya. Harganya cuma 1000 coy,,,murah bangett.
Akhirnya keturutan juga kepinginan karomah yang selama ini terpendam....hohohoh

Lihat, cantiknyaa karomah setelah menemukan susu kedelai.....
Eh siapa tu,,udah minumnya sambil berdiri, pake tangan kiri lagii....

kalm kalm,,,itu hanya  pura-pura sob (akting minum),,,biar kalian percaya dengan adanya susu kedelai itu.


Kami melihat buleee.....yeyey
Dengan berjalan berjingkat-jingkat seperti maling, kami mendekati bule itu. Karomah yang pertama menyapa. Kami minta foto bareng dengan susah payah (malu-maluin bgt kami ni,masa mahasiswa ga bisa bahasa inggris...)
Kami ngobrol-ngobrol loh sama Mr bulenya. Kami dapat informasi, dia itu berasal dari Austria, dia suka travelling, dia mau ke Surabaya, Lombok, dan Bali, pekerjaanya social work, umurnya 44 tahun, dan tidak punya istri (maaf kami sebelumnya ga tau kalo pertanyaan umur, dan pernikahan itu ternyata ga boleh ditanyakan ya? gara-gara saking bernafsunya cari informasi mengenai si Mr. bule). Iya, walopun kami terbata-bata, kami senang bisa ngobrol-ngobrol dengan Mr bule itu. Di tengah-tengah, aku mengalami hal memalukan. Waktu aku mau tanya berapa umurnya aku ngomong gini : "Kam years old?" nah, si Mr bule kebingungan tuh. Aduh, aku jadi ikut bingung nih...Aku dan Karomah saling bertatapan, "Gimana sih?"
Terus aku inget-inget lagi : what, who, where, how.....
Karomah bilang : "Eh kok kamu pake Kam sih?, bukanya itu bahasa arab?" 
Gubrak,,,,waaaa ternyataa...aduh malu nihh,,,
Kam itu bahasa arabnya berapa, kenapa aku jadi campur2 ga jelas begini yaa???
Hmm, selama ngobrol tadi juga aku hampir keceplosan terus, pas aku mau bilang "di", hampir yang keluar itu "fi"(bahasa arab, artinya : di), dan lain-lain. Hahaha sok-sokan nih yee.....

Dan yang paling menggregeti adalah, kenapa kami lupa tanya namanya .....waaaa gubrakk....




Mr bule baik baik banget lohh....hehe.
" Yogyakarta is very nice city."
"Nice to meet you...."
hehe, asikk....makasih ya Mr bule, sekarang kami jadi semakin pengin belajar bahasa inggris lagi semakin belajar ngomong sama bule lagi, dan semakin melihat dunia......

Sabtu, 20 April 2013

Buka mata


Haloo.. Alhamdulillah akhirnya dapet bahan lagi buat ngisi blog..
Ini kisah tentang pelancongan di hari ke sembilan belas bulan April. Hari ini adalah hari jum’at, dan hari ini tidak seperti biasanya. Kenapa? Karena hari ini kami berdua untuk sementara mengistirahatkan sepeda tercinta kami di peraduanya. Kami naik motor ke kampus...jeng jengggg....
Singkat cerita, kami sampai kampus, kuliah, lalu pulang kuliah makan bareng-bareng, habis itu mulailah pelancongan kami. Aku dan Karomah, menuju Gramedia dengan bahagia. Kami melihat-lihat banyak buku dan alat tulis lainya. Seperti biasa, kami tidak tahan kalau pergi ke toko buku dan ga beli buku,(hehe gaya yah, padahal bukunya Cuma di beli ga dibaca). Sebelum menemukan buku yang akan menjadi calon milik kami, kami membaca beberapa buku dulu. Aku memilih buku beraliran Kesehatan dan Lifestyle. Karomah memilih buku beraliran Sastra. Setelah sekitar satu setengah jam, kami mengahiri membaca dan mengundurkan diri dari Gramedia.
Kami melanjutkan perjalanan ke UIN lagi. Karomah ada tugas wawancara agama Budha bersama kelompoknya, aku mau ikut (hehe, jangan ngiri). Kami berangkat berempat. Aku, Karomah, Umar, dan Arif. Kami menuju ini:
 
Umar bertanya-tanya ke petugas Vihara, dan sayangnya kami belum bisa wawancara hari ini. Kami disuruh menunggu hari minggu. Kami lalu muter-muter lagi, nyari-nyari Vihara lagi. Nihil, kami tak menemukan Vihara dan terdamparlah kami di sini :
alun-alun utara pas ada konser global tv seru

Eh iya, pas kami di sini ada bapak penjual bakso kasian banget, atapnya ambruk diterpa angin...
Jujur ya, jujur banget, kami berempat pengin nolongin...tapi,hehe ga tau kenapa kaki kami ga juga bergerak ke arahnya(sama aja dong?hehe gpp, lumayan dapet niatnya)huuuuu
Kami memutuskan pulang, tapi dasar ini jiwa memberontak ga mau pulang (ihhh) , kami belum puas dengan apa yang kami dapat tadi, mumpung naik motor juga masa ga dapet apa-apa..hehe.
Kami memutuskan pergi ke Museum Perjuangan,hehehe : ih kurang kerjaan banget ya? Ye..ya engga lah...pasti nanti ada pelajaran yang kami dapat.

Kami sebenarnya bingung karena tempatnya itu sepi. Kami di bantu petugas, dan kami disuruh milih mau masuk museum perjuangan atau museum sandi negara?  Waah ada museum sandi negara, akhirnya kami ga rugi-rugi banget dateng ke sini. Museum perjuangan itu kan udah biasa yah, isinya pasti patung-patung pahlawan sama benda-benda yang mereka gunakan, maka dari itu kami memilih museum sandi negara kebetulan juga kami belum tau apa-apa tentang persandian negara.

Kami dipandu oleh mbak-mbak berambut panjang yang murah senyum dan selalu minta maaf (hehe, terlalu baik sih orangnya).
Masuk pertama disuguhi tulisan seperti ini : 
Terus kami liat-liat ini :
 Ini namanya The Sumerians. Setiap lambang2 di situ ada artinya loh..tapi ga paham aku.
 Ini Leon Alberti.
 Ini buku dan tas yang dipakai bapak Rubiono Kertopati dalam menjalankan tugas persandian negara. Siapa bapak Rubiono? Beliau adalah pendiri lembaga sandi negara kita. Banyak dokumen rahasia negara yang beliau sampaikan dengan sandi-sandi tertentu agar tidak diketahui musuh.
Kalo ini, diorama tempat menjalankan tugas persandian tersebut, tempatnya di Kulon Progo agak jauh dari ibu kota, supaya aman. Tapi, katanya tetep aja ada yang memata-matai. 
 Ini namanya Torso Tatto, dia adalah budak yang oleh majikanya disuruh menyampaikan pesan. Dia orang persia. Dia berkorban dengan mau dibotaki, lalu di kepalanya di tulis pesan yang berbunyi : Attack On July. Pesan itu disampaikan kepada menantu majikanya setelah rambut di kepalanya tumbuh.
 Ini salah satu mesin sandi modern yang digunakan di Indonesia.
 Ini, Cardan Grile. Isinya tulisan biasa, tapi kita bisa menyampaikan pesan dengan melubangi kertas dan mengepaskan pada kata-kata yang ingin kita susun.
 Ini petikan kata pak Rubiono. Maksudnya sangat jelas, seandainya satu orang saja khilaf dan menyampaikan rahasia negara maka negara bisa runtuh seketika itu juga. Oiya, kami juga dijelaskan tentang penyadap. Jadi ternyata banyak sekali sesuatu yang rahasia di dunia ini yah. Banyak juga yang menjadi penyadap dan pengin tahu rahasia orang. Kepo gitu kali yah..
 Itu pasti foto aku..hehe, eh Mr. Tatto senyum pas foto bareng aku yaa...
 Itu aku di depan Museum, ada sepeda anak-anak yang main-main di situ.

Setelah cukup puas di jelaskan ini itu, kami jadi melongo : “Wah, kuper banget kita ya, masa ga tau apa-apa tentang sandi-sandi berikut seluk beluk dan sejarahnya..kemana kita selama ini heeyy”

Ya itulah teman, memang seperti yang dikatakan para filsuf bahwa kita itu harus tahu apa yang kita tahu dan yang tidak kita tahu supaya kita bisa tahu diri lah setidaknya. Sekarang sadar kan, banyak sekali yang tidak kita tahuu.......maka kita harus semakin ingin tahu...lalu belajar menjadi tahu...tapi harus tetap sadar dengan luasnya pengetahuan Tuhan..sehingga kita tetap harus tahu apa yang tidak kita tahu....di atas langit masih ada langit tahuu..eh, makan tahu yuk :D 




Kalo masih pengin tahu, dan semoga bener-bener pengin tahu silahkan pelajari selengkapnya di sini : http://www.lemsaneg.go.id/index.php?option=com_content&view=category&layout=blog&id=67&Itemid=147

Rabu, 17 April 2013

Hai, kenalan yuk



Teman-teman, perkenalkan namaku Saad..
Kemarin,aku baru saja pulang dari rumah sakit..Iya,aku baru sembuh..aku baru di training Allah supaya menjadi anak yang kuat.
Doakan aku teman, supaya sehat..supaya Ibu dan Ayahku tidak sedih lagi..
Aku tidak tega melihat mereka sedih,
Aku janji akan menjadi anak baik dan sholeh..
Kapan-kapan kalian mampir ke rumahku yaa...hehe

Senin, 15 April 2013

Judulnya Hot News

Ceritanya aku agak kepedean nih ya. Sejak 1 bulan lalu, orang-orang sedang pada menyoroti aku. Entah ini merupakan kesalahan, kelalaian, atau keberuntungan sehingga berita itu menyebar luas. Huh. Sebenarnya ada enak dan tidaknya menjadi orang yang disoroti. Enaknya, makin banyak orang yang menyapa, tersenyum, perhatian, baik hati, dan lain-lain. Tapi, tidak enaknya adalah, aku kawatir (kan ini masih rencana Allah), takut juga kalau diri malah jadi ujub, lupa daratan, dan sebagainya.

Nah, gara-gara berita ini juga, aku makin sempit ruang geraknya. Setiap melakukan sesuatu seperti diperhatikan terus. Contohnya, kemarin malam ketika aku sedang kucek-kucek mencuci baju (saat yang lain mengaji dan kelasku kebetulan libur). Tiba-tiba seorang perempuan berambut pendek, berkulit putih, bertubuh kecil, dengan berjaket dan bercelana jeans muncul di depan pintu gerbang memanggil-manggil aku yang berada di tempat mencuci di pinggir pintu gerbang. "Mba.....mau tanya". Aku menengok ke arahnya. aku bilang "Ya sebentar ya". Aku lalu meletakkan bajuku, mencuci tangan dan kaki, lalu menuju ke arahnya.

Rupanya mba itu mencari seorang ustadzahku. Aku antarkan dia ke kamar pengurus, lalu oleh seseorang aku disuruh memanggilkan ustadzah itu di tempat mengaji. Aku mengambil jilbabku, lalu menuju ke tempat mengaji itu. Setelah selesai, aku kembali ke tempat mencuci. Di jalan, seseorang berkata :"Eh, kamu mau boyong(keluar pondok) yah?". Deg. Ya ampun, mereka berfikir seperti itu?apa mereka menginginkan aku pergi dari sini? hiks hiks, jadi sedih.

Setelah selesai mencuci, aku pergi ke kamar Zidna, hari ini dia udah pulang ke pondok karena dia udah sembuh. Aku bercerita2. Eh ada mb Aziz pulang mengaji. Mb Aziz yang tadi di kelas ustadzah yang barusan dicari tamu, tanya kenapa tadi aku manggil ustadzah itu? Rupanya, teman-teman sekelas mb Aziz juga tadi berpikiran bahwa aku mau boyong...haaah sedihh aku jadinya. Padahal aku tidak punya niatan boyong dari tempat ini lohh... ;(

Minggu, 14 April 2013

Malam Minggu

Kami (Aku, Memet, Iim,Jo) duduk terpaku di depan benda canggih ini. Tangan kami bergerak-gerak menyentuh barisan abjad yang kotak-kotak. 1 jam, 2 jam, dan waktu kami habis. Kami kembali ke kamar bersama. Kami menyetel box music dan menikmati malam minggu ini. Suasana sudah tenang kecuali kamar paling pojok timur ini. Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, saatnya cinderella pulang.....eeh sepatu cinderella jatuh..eh eh kok?

Kami ternyata merasakan suatu hal yang sama. Kami saling berhadapan, bertatapan, berkedip-kedip dan mengirimkan sinyal yang menandakan "Lapar". Hehe
Aku dan Iim membuat sebungkus mie goreng. Dengan kacau dan bumbunya yang tercecer melumuri tangan-tanganku, sampai beberapa mie nya jatuh ke lantai, akhirnya jadi juga. Aku memasukkan beberapa centong nasi. Aku membuat kopinya mb Nimo dan jadilah makan malam kami.

Aku dan Iim makan sepiring berdua. Ternyata Memet, Rika, Jo, Mb Nimo, Amani, sejak tadi sudah mengincar makan malam ini. "Huhu, pantesan dari tadi ngeliatin kita buat mie Im"

Akhirnya inilah keindahan yang tidak bisa terlukiskan. Kami makan sebungkus mie ber 7, padahal kami  bukan seven icon loh.....hahaha.

Satu helai mie dengan satu sendok penuh nasi. Nasinya tambah lagi, tambah lagi, sampai mie nya habis. Hehe. Kenyang??? Kayanya belum pada kenyang deh. Salahnya sih ambilnya dikit :p

Eh tiba-tiba mb Upik bangun, ngajakin ke kamar mandi. Asik, ada temenya. Cibak cibuk suara gayung pun memecah kesunyian malam.
Haha, kukerjain ah yang lama di kamar mandinya, biar mb Upik nungguin aku lama :p.
"BBUuuuuuu, masih lama engga?" Terdengar suara itu di luar.
Hehe, yah udah keluar sungutnya mb Upik......

Kami kembali ke kamar. Terlihat Amani yang menekuk mukanya karena kesal dengan box music yang mati. Haha, kasian.....
Mb Upik tertawa bahagia "Udah Amani, udah malem ngapain si musikan terus, kasian tetangga"
Rupanya Amani tetap tidak menyerah kecuali setelah aku bilang "Tunggu lima menit, nanti nyalain lagi bisa". Eh dia nurut, terus pergi ke tempat tidurnya yaitu di masjid lantai 2.

Aku menata kasur, begitu juga lainya. Aku naruh boneka di deket Fatim yang udah bobo sejak tadi.
"Keliatan" Ih tiba-tiba Fatim ngomong. Ternyata dia sadar, terus kuledekin deh...hehe.

Giliranya mb Upik kelaparan, terus mengais sisa-sisa makanan yang barangkali ada.

"Horeeeee...."mb Upik kegirangan.
Ternyata nemu susu. Terus dibuat, terus
"Aaaah akhirnya kenyang juga"

Jam 1 malam, kami sudah terlelap.


Sunday

Siang ini aku aku bergegas keluar dari penjaraku karena aku merindukanmu lagi. Penjaraku tidak menyediakan ruang untuk kita berbagi cerita. Mohon maaf dalihku kali ini adalah mencari inspirasi. Memang, tadi aku menggebu-gebu ingin segera menulis cerpen, tapi ternyata ada alibi lain dibalik itu.

Aku ingin hari ini aku bisa mengobati rasa rinduku padamu dengan beberapa sapa dan cerita, meski dalam bentuk rangkaian kata. Aku menunggumu di bengkel, di minimarket, di jalan, dan di warnet ini.

Aku bosan berpura-pura sibuk untuk menepiskan rasa rindu ini. Aku bosan mencari-carimu di dalam mimpi. Tapi aku tidak pernah bosan menunggumu di sini. Dan kamu pun datang. Terimakasih :)