Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 April 2013

Kisah Bore dan Semut




“Lihat saja, aku akan membunuhmu Semut kecil, kau telah merusak seluruh harapanku, seluruh hidupku. Akan kukejar kemanapun kau pergi dan akan kudapatkan kau!”


Bore menggerutu, keningnya ditekuk, matanya melotot sambil terus mencari-cari Semut itu. Sejak kejadian tadi pagi di bawah pohon kapur, Bore mendadak menjadi pendiam, tidak menghiraukan sekelilingnya dan tidak berlaku seperti biasanya. Bore terus-terusan mengejar-ngejar Semut itu dan saat tak mendapatkanya, ia marah-marah dan berteriak. Semua orang yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya dan mengecap lidah kosongnya.


Bore masih saja mengikuti kemana Semut itu pergi, dan matanya selalu mendapatkan jejaknya, namun tanganya tak pernah dapat menyetuhnya, apalagi menangkapnya dan membununuhnya.


Semut berlari kencang bagaikan roket yang meluncur. Bore dengan langkah pendeknya masih bisa menyalipnya, dan sekali lagi : gagal menangkapnya. Tiba-tiba Semut masuk ke lubang kecil dibawah pohon kapur, Bore mengikuti Semut dan berhasil masuk ke lubang kecil itu, lubangnya tidak lebih besar dari lingkaran cincin seorang perempuan dewasa. Lubang itu begitu gelap hingga ia hanya dapat melihat sorot mata Semut.


Semut membuka matanya lebar-lebar hingga terpancar jelas sorot mata itu ke arah Bore. Bore memandangnya dengan ragu. Semut berjalan lagi, Bore terus mengikuti. Semut berjalan lagi, kali ini lebih pelan dan seolah-olah membimbing Bore untuk mengikutinya. Bore mantap membuntuti Semut. Semut berjalan menyusuri lorong yang gelap, hanya sorot matanya yang menerangi jalan Bore.


Cahaya tiba-tiba menyusup ke lubang kecil-kecil di depan Semut. Semakin besar dan besar, hingga akhirnya seluruhnya terang benderang. Bore memicingkan matanya, cahaya membuat pupil matanya semakin menyempit. Dan pada akhirnya Bore dapat melihat seluruh ruang itu.


Betapa terkejut Bore ketika menaburkan pandangan ke segala arah. Semua cahaya itu ternyata memancar dari abjad-abjad yang berserakan, menggunung, membanjiri seluruh ruangan itu. Ruangan yang tadinya hanya sebuah lubang sebesar lingkaran cincin jari orang dewasa, tiba-tiba menjadi tak terhingga luasnya. A,M,L,T,Z,O,W,Q,Q,S,X, semua abjad itu tak beraturan dan tak membentuk kata yang bermakna.


Bore begitu terpana dengan pemandangan ini sehingga ia melupakan keberadaan Semut. Bore membiaskan pandanganya ke segala arah, masih mencari Semut, dan gagal. Kali ini, ia benar-benar kehilangan jejak Semut. Ketika Bore sibuk mencari-cari Semut, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang berat mendekat.


“Bore”


Suara itu mendengungkan namanya. Bore terkesiap dan tubuhnya sempat bergetar, hingga ia memalingkan wajahnya ke arah sumber suara.


“Aristoteles”. Ucap Bore sambil sedikit terperanjat.


“Iya, apa yang anda lakukan?”


“Sungguh aku tidak mengira ada tempat seperti ini dan dapat bertemu orang sepertimu”


“Di dalam segala hal yang ada di alam semesta ini, sesungguhnya kita bisa melihat banyak keajaiban[1]”


“Benarkah? Sungguh akal sehatku tak dapat mencerna semua ini.”


“Akal sehat adalah sesuatu yang memiliki kemampuan untuk menerima dirinya dengan apa adanya tanpa masalah[2]”


“Baiklah, mungkin memang akalku tidak sehat. Lalu, dengan siapakah kau di sini? Apa kau bersama Plato, sahabatmu?”


“Plato adalah sahabat baik saya, tapi sahabat terbaik adalah kebenaran[3]”


“Baiklah kalau begitu, oh iya aku mencari Semut yang telah membawaku kemari. Tahukah kau dimana semut itu berada?”


“Tidak.”


“Semut itu telah menghancurkan acara kencanku dengan istriku, aku benar-benar marah terhadapnya dan aku akan membunuhnya, lalu Semut itu menyesatkanku hingga berada di tempat ini dan membuatku mengecil seukuran lingkaran cincin jari orang dewasa.”


Hening....


“Apa salah jika aku marah?” kata Bore.


“Setiap orang bisa menjadi marah, itu adalah hal yang mudah, tetapi menjadi marah kepada orang yang tepat, dengan kadar yang tepat, di saat yang tepat, dengan tujuan yang tepat serta dengan cara yang tepat, bukanlah kemampuan setiap orang dan bukanlah hal yang mudah[4]”


“Baiklah, lalu aku harus bagaimana? Bagaimana aku keluar dari tempat ini?”


“Janganlah berputus asa. Tetapi jika anda sampai berada dalam keadaan putus asa, berjuanglah terus meskipun dalam keadaan putus asa[5]”


Aristoteles membalikkan badanya, kemudian melangkah dengan mantap ke arah gunungan abjad-abjad yang berserakan. Mata Bore mengikuti gerak Aristoteles. Hingga akhirnya Bore terpaku dalam diam. Di tegak pondasi kaki-kakinya ia terus menatap Aristoteles dari kejauhan. Ia memandang Aristoteles yang tengah mengumpulkan huruf demi huruf abjad itu, kemudian menyusunya hingga terbentuk suatu kata, dan kalimat. Kemudian kata dan kalimat itu menjadi bercahaya, secerah mutiara yang memantulkan cahaya surya. Lalu kata dan kalimat itu di tempelkan di hatinya, kemudian diambilnya lagi dan di masukkan ke otaknya dengan perlahan-lahan. Tubuh Aristoteles menjadi bersinar, memekakan mata Bore. Bore berdecak kagum melihat hal itu, ia terus memperhatikan apa yang dilakukan Aristoteles meski dengan sedikit menyipitkan matanya yang tak kuat terpancari cahaya Aristoteles.


Bore lebih tercengang lagi ketika ia kemudian melihat Imrul Qaisi, Jalaludin Rumi,Ibnu Sina, Plato, Isaac Newton, William Shakespeare, dan...banyak sekali orang-orang yang melakukan hal yang sama dengan Aristoteles. Kemudian mereka semua bercahaya, dan sungguh cahaya itu tak mampu ditanggung matanya hingga membuat bulu matanya tak kuasa menegak. Bore meraba-raba tumpukan abjad di depanya, mengikuti orang-orang itu. Bore mengambil huruf-huruf lalu disusunya menjadi beberapa kata. Kata yang sangat sederhana “L-O-V-E-- M-A-K-E-S--L-I-F-E—L-I-V-E” . Kemudian ia mengikuti orang-orang, menempelkan kata-kata itu di hatinya, mengambil kembali dan menyisipkan ke otaknya. Seketika sekujur tubuh Bore bercahaya, ia kemudian tiba-tiba berada di bawah pohon kapur tempat mula ia berada.


***


Saat mentari terkesiap mendengar waktu berdentang untuk manusia bangun dari peraduan, Bore tengah asik duduk berdua bersama istrinya, Salma di bawah pohon kapur.


“Salma, semut itu, semut yang berjalan di kulit pohon kapur ini, dia begitu hebat.”


“Bagaimana bisa sayang?”


“Iya, dia kecil tapi dia besar.”


“Maksudmu?”


“Tubuhnya kecil, tak lebih besar dari kuku jari kelingkingmu, tapi kalau ia dapat berkata dengan hati dan otaknya, ia bisa mengubah seluruh dunia ini sayang.”


“Bagaimana mungkin sayang? Semut tidak bisa berkata-kata, dan otaknya, apa mungkin otaknya bisa berfikir?”


“Kata-kata itu bukan hanya ucapan atau tulisan sayang, kata hanyalah salah satu bahasa untuk mengungkapkan maksud, namun terlalu banyak maksud yang disampaikan dengan kata sehingga aku memilih kata sebagai wakil dari maksud, dan meskipun otak semut tidak sesempurna manusia, tapi bukankah semut masih punya otak?”


“Kalau begitu, mengapa yang mengubah dunia bukan semut itu, tapi manusia?”


“Karena Tuhan menciptakan manusia dengan otak lebih sempurna dan Tuhan menciptakan manusia sebagai pemimpin di muka bumi ini, sehingga manusialah yang bertugas mengubah dunia.”


“Kalau begitu sayang, semut tidak mungkin mengubah dunia?”


“Bisa, kalau Tuhan menghendaki”


“Jadi, apa yang bisa mengubah dunia? Semut, kata-kata, hati,otak atau Tuhan?”


“Jawaban itu ada pada pertanyaanmu sayang.”


“Aku tidak mengerti.”


Hening


Mereka terdiam dalam kata yang terpendam. Mereka sama-sama berfikir untuk apa sebenarnya mereka membicarakan hal ini. Kata-kata memang sebuah maksud, tapi diam juga sebuah maksud. Apakah diam juga kata-kata?


Jelas, karena diam adalah kata yang terdiri dari abjad D-I-A-M.






END


Fakultas Adab, 26 April 2013-04-26


15 : 26


(bbusmile^^)






[1] Kata-kata bijak Aristoteles : kata-kata-mutiara.org


[2] ibid


[3] ibid


[4] ibid


[5] ibid

Kamis, 25 April 2013

Ada Sesuatu

Ada sesuatu yang tidak dapat hadir ketika kita bersua atau bersapa via suara atau sekedar kata, karena menurutku sua, sapa, dan kata adalah seni. Dan seni, seperti yang dikatakan Aristoteles hanya bertujuan untuk mewakili, bukan menampakan wujud aslinya. Wakil tentu saja bukanlah esensi sesuatu itu. Dan sesuatu itu hanya aku dan Tuhan yang tahu, kecuali jika Tuhan mengabarkanya padamu. Sesuatu itu kadang membuatku   semakin tidak mengerti dengan diriku maupun dirimu. Kekasihku, nampaknya aku tak akan bisa memberitahumu tentang sesuatu itu, karena aku sendiri juga tak tahu. Jadi, kuharap Tuhan benar-benar mengabarkanya padamu. Aku akan selalu menunggu sesuatu itu sampai padamu, dan kita nantinya benar-benar menjaga sesuatu itu. Semoga sesuatu itu yang akan membawa kita pada kebaikann, kebenaran, dan syurga. Aamiin.

Rabu, 17 April 2013

Cerpen Karya Magdi Samak




Ini judulnya Nida' al Hubb , doakan aku ya mau nerjemahin ini cerpen.....Bismillah

ﻛﻠﻣﺎ ﺧطر إﻟﻰ ﺑﺎل ﺳﻣﯾر طﯾف ﺧطﯾﺑﺗﮫ ﺳﻠﻣﻰ ﻛﺎن ﻗﻠﺑﮫ ﯾﺧﻔق وﺑﺳرﻋﺔ ﯾدق.. ﺛم ﺗﺗﻌﺎﻟﻰ دﻗﺎﺗﮫ ﺣﺗﻰ ﺗﺗﺣول ﻓﻲ 
ﻟﻣﺢ اﻟﺑﺻر إﻟﻰ رﻧﯾن، ﯾﺳري ﻛﮭرﺑﺎء ﻓﻲ ﺷراﯾﯾﻧﮫ ﻓﯾﻣﻸ ﻛل ﻛﯾﺎﻧﮫ. وﯾﺑﻘﻰ ھﻛذا ﻛﻣن ﻏﺎب ﻋن اﻟدﻧﯾﺎ وﻏﺎص
ﻋﻣﯾﻘﺎ ﻓﻲ ﻋﺎﻟم ﻟﯾس ﻟﮫ وﺟود.. ﻓﯾﺣس ﻛﺄن ﺟﺳده ﻛﻠﮫ ﯾﺿﻲء.
ﻣﻊ ھذا ﻟم ﯾﻧس أن ﯾﻣد ﯾده ﻛﻲ ﯾﺗﺣﺳس ﻗﺎرورة اﻟﻌطر اﻟﻧﺳﺎﺋﻲ اﻟﺗﻲ دﺳﮭﺎ ﻓﻲ اﻟﺟﯾب اﻟداﺧﻠﻲ ﻟﺑذﻟﺗﮫ اﻟرﻣﺎدﯾﺔ..
اﻟﺗﻲ اﺷﺗراھﺎ وھو ﻋﺎﺋد ﻣن رام ﷲ ﻗﺑل ﯾوﻣﯾن. ﺛم أﺧرﺟت ﯾده اﻟﻘﺎرورة وراح ﺑﻌﯾﻧﯾن ﺿﺎﺣﻛﺗﯾن ﯾﺗﻔﺣﺻﮭﺎ ﻛﺄﻧﮫ
ﯾراھﺎ ﻷول ﻣرة. ﺑﻌد ھذا وﻟﻠﻣرة اﻟﻌﺎﺷرة رش رﺷﺔ ﺧﻔﯾﻔﺔ ﻋﻠﻰ ظﮭر ﯾده.. ﻓﺄﺣس ﺑﻛﻔﮫ وھﻲ ﺗﺗﺣول إﻟﻰ ﻗطﻌﺔ
ﻋﻧﺑر ﯾﺣﺗرق. وﺑﻣﻧﺗﮭﻰ اﻟرﻓق ﺻﻌدت ﻛﻔﮫ إﻟﻰ أﻋﻠﻰ ﺣﺗﻰ ﻻﻣﺳت أرﻧﺑﺔ أﻧﻔﮫ اﻟﻣدﺑب.. ﻓﺻﺎر ﯾﺷم، وﯾﻧﺗﺷﻲ.
وﻋﻠﻰ اﻟﻔور ﺳﻣﻊ ﺻوﺗﺎ ﻛرﺟﻊ اﻟﺻدى راح ﯾﻧﺑﻌث وﯾﺳري ﻣن داﺧﻠﮫ إﻟﻰ داﺧﻠﮫ: ﷲ.. ﷲ.. ھدﯾﺔ راﺋﻌﺔ ﺗﻠﯾق
ﺑﺧطﯾﺑﺗﻲ ﺳﻠﻣﻰ.. أروع ھدﯾﺔ أﻗدﻣﮭﺎ ﻟﮭﺎ ﻣن ﯾوم ﻣﺎ ﺗﻌرﻓت ﻋﻠﯾﮭﺎ.
أﻋﺎدت ﯾده اﻟﻘﺎرورة إﻟﻰ ﻣﺳﺗﻘرھﺎ وھو ﯾﻧﻌطف ﺟﮭﺔ اﻟﯾﻣﯾن.. وﺣدق إﻟﻰ اﻷﻓق ﺑﺳﻣﺎﺋﮭﺎ اﻟﻧﻘﯾﺔ اﻟﺧﺎﻟﯾﺔ ﺗﻣﺎﻣﺎ ﻣن
أي ﻏﯾوم. وداﻋﺑت وﺟﮭﮫ ﻧﺳﻣﺎت ﺗﺷرﯾن اﻟﺧﻔﯾﻔﺔ اﻟﺗﻲ ﻛﺎﻧت ﺗﮭب ﻣن اﻟﺷﻣﺎل.. ﻓﺗﻣﺗزج ﺑطرﯾﻘﮭﺎ ﻣﻊ اﺑﺗﺳﺎﻣﺎت
رﻗﯾﻘﺎت ﻛﺎﻧت ﺗﺗﻧﺎﺛر ﻋن ﺷﻔﺗﯾﮫ اﻟﻣﺷرﻋﺗﯾن.. ﻓﺗﻠﻣﻊ ﺧﻠﻔﮭﻣﺎ وﺗﺗﻸﻷ أﺳﻧﺎﻧﮫ اﻟﺑﯾﺿﺎء اﻷﻧﺻﻊ ﻣن ﻗﺷر اﻟﺑﯾض.
اﻧﻌطف ﻣرة أﺧرى وﻟﻛن إﻟﻰ ﺟﮭﺔ اﻟﯾﺳﺎر.. ﺣﯾث اﻟﺷﺎرع اﻟﻣؤدي إﻟﻰ دار ﺧطﯾﺑﺗﮫ ﺳﻠﻣﻰ.. اﻟواﻗﻊ ﺑﺎﻟﻘرب ﻣن
اﻟﺟدار اﻟﻌﺎزل، اﻟذي ﯾﻘﺳم اﻟﺿﻔﺔ اﻟﻐرﺑﯾﺔ ﻛﺳﯾف طوﯾل ﺑﺗﺎر ﻓﻲ ﻟﺣم ﺣﻲ ﺑض. وﻛﺎﻧت ﻧﻔﺳﮫ ﻣﺑﺗﮭﺟﺔ وھﻲ
ﺗﺧﺎطب أﺣﺎﺳﯾﺳﮫ اﻟﻣﻧﺗﺷﯾﺔ ﻗﺎﺋﻠﺔ ﻟﮫ ﻓﻲ دﻻل: ﺑﻌد ﺧﻣس دﻗﺎﺋق ﺳوف أﻛون ﻓﻲ ﺑﯾت ﺧطﯾﺑﺗﻲ.. ﺣﺑﯾﺑﺗﻲ ﺳﻠﻣﻰ..
روﺣﻲ اﻟﺗﻲ ﯾﺣﯾﺎ ﺑﮭﺎ ﺟﺳدي وﻓﯾﮭﺎ ﯾﻌﯾش.. وﺳوف اﺧطف ﻣﻧﮭﺎ ﻗﺑﻠﺔ ﺣﯾن أﻧﺎوﻟﮭﺎ ﻗﺎرورة اﻟﻌطر.. ﺑﺎﻟﻔﻌل ھﻲ
أﻓﺧر ﻗﺎرورة ﻋطر أﻧﺗﺟﺗﮭﺎ ﺑﺎرﯾس.
ﻣﺎ ھﻲ ﺳوى ﻋﺷرات ﻣن اﻷﻣﺗﺎر ﻣﺷﺎھﺎ ﺣﺗﻰ ﺳﻣﻊ ﺟﻠﺑﺔ ﻗﺎدﻣﺔ ﻣن اﻟﺟﮭﺔ اﻟﻣﻘﺎﺑﻠﺔ.. ﻛﺄن اﻟدﻧﯾﺎ اﺷﺗﻌﻠت ﻛﻠﮭﺎ
ﻓﺟﺄة واﻧدﻟﻌت ﻓﯾﮭﺎ ﺣرب.. أو اﻧﻔﺟر ﻓﯾﮭﺎ ﺑرﻛﺎن. ﻗﻧﺎﺑل ﻏﺎز ﻣﺳﯾل ﻟﻠدﻣوع.. رﺻﺎص ﺣﻲ وآﺧر ﻣطﺎطﻲ..
ﺳﯾﺎرات ﺟﻧد ﻣﺣﺎطﺔ ﺑﺳﯾﺎج ﺣدﯾدي.. أﺑراج ﻣراﻗﺑﺔ ﯾﻌﻠوھﺎ ﺟﻧود ﻣدﺟﺟون ﺑﺎﻟﺳﻼح.. ﺷﺑﺎب ﻓﻠﺳطﯾﻧﯾون ﻣﻌظﻣﮭم
ﺗﻣوﺗﻲ.. ﻻ ﺗﻣوﺗﻲ. أﻧﺎ ﺳﻣﯾر.. أﻧﺎ ﺳﻣﯾر. ﻣﺎ اﻟذي أﺧرﺟك ﻣن اﻟدار.. أي ﻗدر ﺟﺎء ﺑك إﻟﻰ ھﻧﺎ. ﻣن رآه ﻓﻲ ﺗﻠك
اﻟﻠﺣظﺔ وھو ﯾﺻرخ ﻗﺎﺋﻼ: اﺳﺗﺣﻠﻔك ﺑﺎͿ أن ﺗﻔﯾﻘﻲ ﯾﺎ ﺣﺑﯾﺑﺗﻲ.. ﺑﺎﻟﺗﺄﻛﯾد ﻣن ﺳﻣﻌﮫ ﺳﯾظن ﻻ ﻣﺣﺎﻟﺔ أن ﺳﻣﯾر
ﻣﺳﮫ ﺟﻧون.
ﺑﺳرﻋﺔ ﺧطف ﺷﺎب ﯾﮭودي اﻟﺑﺻﻠﺔ ﻣن ﯾد ﺳﻣﯾر.. وراح ﯾﻘرﺑﮭﺎ إﻟﻰ أﻧف ﺳﻠﻣﻰ وﯾﻌﺻرھﺎ ﺑﯾده.. ﻟﺗﺳﯾل ﻣﻧﮭﺎ
اﻟﻘطرات ﻛﺎﻟﻣزراب. ﺑﻌض اﻟﻘطرات أﺧذت طرﯾﻘﮭﺎ إﻟﻰ ﺧدﯾﮭﺎ وﻣن ھﻧﺎك ﺻﺎرت ﺗﺗﺳﺎﻗط ﻋﻠﻰ رﻗﺑﺗﮭﺎ ﺛم ﺗﺳﯾل.
ﻣﺎ ھو ﺳوى وﻗت ﺿﺋﯾل ﻣر ﺣﺗﻰ ﺗﻣﻠﻣﻠت ﺳﻠﻣﻰ.. واﺳﺗﯾﻘظت. راﺣت ذاھﻠﺔ ﺗﻧظر إﻟﻰ وﺟوه اﻟواﻗﻔﯾن ﺣوﻟﮭﺎ ﻓﻲ
وﺟوم. ﻟﻛﻧﮭﺎ اﺑﺗﺳﻣت ﺣﯾن رأت وﺟﮫ ﺳﻣﯾر.. وﻛﺎن ﻓﻲ ﻧظراﺗﮭﺎ ﺣﯾرة ﺑﻘدر ﻣﺎ ﻓﯾﮭﺎ ﻣن دھﺷﺔ وإرھﺎق..
وﺑﺳرﻋﺔ اﻧﻘﻠﺑت ﻧظراﺗﮭﺎ إﻟﻰ ﻧداء ﺣب ﻣﻣﻠوء ﺑﺎﻟﺣﯾﺎة راح ﯾﺗدﻓق ﻣن أﻋﻣﺎﻗﮭﺎ.. وﻣن ﻓﻣﮭﺎ اﻧدﻟﻊ: ھﺎت ﯾدك..
ﺧذﻧﻲ إﻟﯾك.. ﺿﻌﻧﻲ ﻓﻲ ﻗﻠﺑك.. ﺗﻌﺎل إﻟﻰ ﻗﻠﺑﻲ. ﻛﺎن اﻟﺷﺎب اﻟﯾﮭودي ﻻ ﯾزال واﻗﻔﺎ ﯾﻧظر اﻟﯾﮭﻣﺎ ﺑﺷﻐف ﺷدﯾد،
وﻣﻊ إﻧﮫ ﻻ ﯾﻌرف اﻟﻠﻐﺔ اﻟﻌرﺑﯾﺔ ﺳوى أﻧﮫ ﺿﺣك ﺑﺑراءة ﺷدﯾدة.. ﺛم ﺣرك ﻛﻔﮫ ﯾﻣﯾﻧﺎ وﯾﺳﺎرا وھو ﯾﻘول ﻟﮭم:
(ﺷﺎﻟوم).. وظل ﯾﻘوﻟﮭﺎ ﺣﺗﻰ اﺧﺗﻔﻰ وﺻﺎر ﻓﻲ ﻗﻠب اﻟﻣظﺎھرة.
ﻗرﻓص ﺳﻣﯾر إﻟﻰ ﺟوار ﺧطﯾﺑﺗﮫ ﺳﻠﻣﻰ اﻟﺗﻲ ﺟﻠﺳت واﺳﻧدت ظﮭرھﺎ اﻟﻰ اﻟﺻﺧرة.. وراﺋﺣﺔ اﻟﺑﺻل اﻟﻣﻧﺑﻌﺛﺔ ﻣن
ﺟﺳدھﺎ ﻛﺎﻧت ﺗزﻛم أﻧﻔﮫ، إﻻ أﻧﮫ ﺑﻠذة راح ﯾﺷم، ﻻ ﯾﺄﺑﮫ إﻻ ﻟﻧداء اﻟﺣب اﻟذي ظل ﯾﺑﺛﮫ ﻗﻠﺑﮫ اﻟرﻧﺎن. ﺛم ﻣﺳك ﯾدھﺎ
وﻣﻧﻊ دﻣﻌﺔ أوﺷﻛت ﻋﻠﻰ اﻟوﻗوع. وأﺧرج ﻗﺎرورة اﻟﻌطر اﻟﻔﺎرﻏﺔ وﻗدﻣﮭﺎ ﻟﮭﺎ ﻗﺎﺋﻼ ﺑﻣﻧﺗﮭﻰ اﻟﺟد واﻟوﻟﮫ: ھذه
ھدﯾﺗﻲ إﻟﯾك ﯾﺎ ﺣﺑﯾﺑﺗﻲ.. اﻗﺳم ﺑﺎͿ أﻧﮭﺎ ﻣن أﻓﺧر اﻟﻌطور اﻟﺗﻲ ﺻﻧﻌﺗﮭﺎ ﻓرﻧﺳﺎ. وﻗص ﻋﻠﯾﮭﺎ اﻟﺣﻛﺎﯾﺔ ﺑﺎﻗﺗﺿﺎب.
ﺑﺎﻟﻛﺎد اﻧﺗﮭﻰ ﻣن ﻛﻼﻣﮫ، ﺣﺗﻰ ﺗﺷﺎﺑﻛت أﺻﺎﺑﻊ ﯾدﯾﮭﻣﺎ، دون ان ﯾﺷﻌرھﺎ ﺑذﻟك. وﻏرﻗﺎ ﻓﻲ ﺿﺣك ﺷدﯾد ﺻﺎﺧب ﻻ
ﯾﺑدو أﻧﮫ ﺳﯾﺧﺑو أو ﯾﻧﻘطﻊ.. ﺿﺣﻛﺎت ﺷﻘت طرﯾﻘﮭﺎ ﻋﺑر أزﯾز اﻟرﺻﺎص اﻟﻣﺗطﺎﯾر ﻓﻲ اﻟﻣﻛﺎن.
اﻧﺗﮭت
Magdi_samak@yahoo.com

Jumat, 05 April 2013

Cyber

Ia adalah ilusi yang nyata
Terkadang berkawan prahara
Tak jarang, bersatu dengan cinta

Ia adalah jendela
Yang membuka mata pada dunia
Tapi ia juga tirai
Yang menutup hati dari sua yang rinci

Fak Adab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
05 April 2013

Putri

Ia adalah malaikat
Ia menjelma dalam sebutir air yang mengkilap
Ia terjatuh dibuang segumpal mendung
Ia berlarian menuju bentangan bumi yang rendah
Ia mengejar deru angin
Mencari bebas samudra
Lalu mati terdesak ombak

Fak Adab, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
05 April 2013

Rabu, 03 April 2013

Filosofi "Biru dan Merah Jambu"





Namanya juga sastra, terserah kita dalam mengartikan sesuatu. Kita diajarkan tentang kebebasan di dalam sastra. Bebaskan pikiran kita untuk memahami sesuatu. Bebaskan kita untuk mengekspresikan sesuatu. Masuk akal ataupun tidak, itu tidak masalah, namanya juga seni.  Hampir menuju area filsafat sih. Loh, jadi apa nih? seni, sastra, atau filsafat? hehe terserah, pokoknya bebas dehh. Sekarang mari kita coba untuk mengkaji tulisan "Biru dan Merah Jambu".


Tinta ini mengisahkan tentang rasaku yang biru. Meski hanya menari-nari di atas secarik kertas, namun aku berharap kebiruan rasaku mampu membawamu ke nirwana.


Tinta itu cairan yang digunakan untuk menulis. Penulis berusaha mengungkapkan rasa yang ada di dalam hatinya dengan tinta ke atas secarik kertas. Ini lebih sebagai "Curhat" atau "Nulis diary". Kenapa hanya secarik kertas? Karena, bagi penulis bahkan ia sampai tidak bisa banyak berkata-kata untuk menjelaskan isi di hatinya. Tulisan di secarik kertas itu diharapkanya sedikit mewakili perasaanya yang biru. Menurut perspektif penulis, biru itu melambangkan rasa yang dalam dalam kerinduan. Tenang, sejuk, dingin,...baginya kerinduan itu seperti itu. Penulis berharap, kerinduanya terhadap kekasihnya dapat membuat sang kekasih merasakan surga (nirwana) cinta. > Ini harapan yang terlampau tinggi, terlalu menghayal.


Hai kau, tega kau buat rasa ini biru. Biru bagai langit tanpa awan dan mendung.


Penulis sedikit menaikkan tekanan pada ucapanya, untuk menegaskan bahwa penulis merasa kekasihnya telah benar-benar membuatnya rindu setengah mati. Lambang langit tanpa awan dan mendung, berarti sepinya penulis tanpa kekasihnya itu.


Ketika kau membaca birunya rasaku, kau akan paham dengan merah jambu yang menyelimuti hatimu. Ia (Merah Jambu), juga akan menghangatkanmu ketika aku menumpahkan rinduku yang pekat di atas secarik kertas itu.


Penulis berharap lagi, kekasihnya akan membaca sepenggal curahan hatinya, dan setelah itu ia akan menyadari rasa cinta mulai tumbuh dalam hatinya = merah jambu dilambangkan rasa cinta oleh penulis, menyelimuti berarti menutupi kekosongan, menghangatkan berarti perasaan cinta yang bersemi. Rindu yang pekat berarti rindu yang kental, atau sangat sangat rindu.


Merah jambu adalah biru yang terbentang sepanjang lembutnya cintamu. Biru adalah rasa rindu yang memerah jambu ketika membawa dahaga.


Orang yang mencintai akan merindukan kekasih yang dicintainya itu, sepanjang cinta itu ada maka sepanjang itu pula kerinduan dirasakanya. Kerinduan akan meumbuhkan cinta, membawa dahaga = menjadikan candu. Orang-orang yang rindu biasanya sedang tercandu asmara (jatuh cinta)


Begitulah, nampaknya dalam sastra memang terlalu banyak melebai-lebaikan, tapi anggun kan?? hehe




Selasa, 02 April 2013

Biru dan Merah Jambu

Tinta ini mengisahkan tentang rasaku yang biru. Meski hanya menari-nari di atas secarik kertas, namun aku berharap kebiruan rasaku mampu membawamu ke nirwana.

Hai kau, tega kau buat rasa ini biru. Biru bagai langit tanpa awan dan mendung.

Ketika kau membaca birunya rasaku, kau akan paham dengan merah jambu yang menyelimuti hatimu. Ia (Merah Jambu), juga akan menghangatkanmu ketika aku menumpahkan rinduku yang pekat di atas secarik kertas itu.

Merah jambu adalah biru yang terbentang sepanjang lembutnya cintamu. Biru adalah rasa rindu yang memerah jambu ketika membawa dahaga.

Selasa, 26 Maret 2013

Malam Selasa

Kesunyian malam mengajarkan aku untuk mengenalmu. Dibalik sepotong gelap, kau memperlihatkan bahwa kau berani beradu dengan malam. Kata malam, kau sangat gigih melawanya. Malam adalah kebisuan dan kegundahan, namun kau mampu membuat malam berkisah padaku. Ia membisikiku dan mengatakan bahwa Tuhan memilihmu sebagai tempat hati ini menambat.


Malam, maukah kau katakan padanya bahwa aku merindukanya? Tolonglah malam, kali ini saja berdamailah denganya dan katakan aku rindu padanya. Seperti rindumu pada kelembutan angin yang menghempas dalam tubuhmu, seperti kau merindukan udara dingin yang biasa memelukmu, seperti kau merindukan ketenangan yang membelaimu. Seperti itulah malam, katakan padanya ya. Katakan pula, kelak jika sudah tiba waktunya aku akan mencintainya karena Tuhanku.

Sabtu, 16 Maret 2013

Sebelum Pulang

Sebelum pulang ucapkan salam dulu. :)

Hai...
Bagaimanakah perjalananmu hari ini?
Perahumu baik-baik saja kan?
Tetaplah berlayar ke luas samudera

Jangan hiraukan mendung yang memanggilmu untuk singgah di hutan belantara
Tapi, jika ada awan menyapamu di tepi pantai maka turutilah barang sebentar
Duduklah dan makanlah ikan pemberian nelayan
Minumlah air kelapa yang mereka petikkan untukmu

Lalu, kembalilah pada perahumu
Kejarlah senja
Berlabuhlah sebelum fajar tiba



tag : my dear

Senin, 25 Februari 2013

Untukmu

Kau adalah aroma syurga
Yang tercium di pertengahan masa
Kau datang untuk memenggal dahaga
Ketika aku mencari pelabuhan asa
Kau kiriman Tuhan untukku menggali kubangan pahala
Kaulah orang yang akan menemaniku suka dan duka