Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Maret 2014

Kereta Cinta

08 November 2013

Hari semakin gelap, kutengok lagi jadwal keberangkatan keretaku ke Jakarta hari ini : pukul 18.00. Sekarang sudah pukul 17.30 sementara Iim belum juga datang bersama motor yang akan mengantarkanku ke stasiun. Dia sempat tidak setuju aku pergi karena baru 15 oktober lalu aku pergi ke Jakarta dan kuliah tidak libur,juga keadaan hamilku yang membuatnya kawatir, tapi aku tidak mau elewatkan momen ini maka apapun kuperjuangkan, dan kukatakan padanya 'cinta itu butuh pengorbanan'.
Ragu-ragu, masih bisa sholat dulu ga yah....tapi belum terdengar adzan maghrib juga. Akhirnya Iim datang membawa kepanikan yang hebat. Haha terang saja, kereta ini penting sekali. Harganya aja mahal 170 ribu, apalagi waktunya sangat genting, kalau aku gagal berangkat aku akan kehilangan momen penting.
Aku langsung melaju ke stasiun Lempuyangan, yap nyampe pukul 17. 50. Aku buru-buru, dan begitu sampai di pengecekan tiket ternyata keretaku berhenti di stasiun Tugu. Wah, gawat. Beruntung aku masih bisa tenang dan jalanpun muncul di depan mata. Tukang ojek menawarkan diri dan aku langsung saja mau tanpa fikir panjang lagi. 7 menit waktu untuk sampai ke Tugu. Alhamdulillah....
Aku langsung berlari lagi, turun tangga, naik lagi....terjatuh....dan salah kereta. Keretaku di seberang, kehilangan 1 menit saja, aku kehilangan momen penting itu. Alhamdulillah petugas masih bisa memberi peringatan kepada masinis untuk tidak jalan dulu, dan  keretamasih bisa terkejar...Huuh hah huh hah...
Aku baru ingat, aku membawa bayi dalam perutku. Bagaimana keadaanya ya?

Setelah aku menemukan tempat duduku, aku begitu lega karena tidak terlalu sempit, hanya ada seorang pemuda duduk dihadapanku. Aku lalu sholat maghrib dan tiduran sambil menunggu supaya cepat sampai. 
Waktu itu aku hamil baru 4 bulan, keadaan tubuhku belum stabil, untuk duduk dalam waktu yang lama memerlukan sedikit usaha keras daripada biasanya plus kondisi perut yang masih labil juga yang kadang lapar tiba-tiba. Beruntung malam itu cepat berlalu dan aku bisa tidur di kereta. Pemuda yang di depanku juga baik karena ia meninggalkan kursinya sehingga aku bisa selonjoran di kursinya. Namun, bapak2 gendut disebelahku sedikit membuatku tidak nyaman karena tempatku jadi sempit. Malam berlalu, pemuda di depanku tidur di lantai kereta, ia seorang backpacker, tau kan aku selalu tertarik dengan kegiatan backpacking? sejak tadi kami memang belum memulai ngobrol, hingga akhirnya pertanyaanku mengawali pembicaraan kami. Kami saling bertukar cerita tentang kehidupan kami. Rupanya dia tertarik dengan kehidupanku dan aku tentu saja langsung mengulik2 pengalamanya tentang bagpacking. Kami baru mulai mengobrol setelah dini hari, waktu itu sampai Bekasi, jadi hanya sebentar ceritanya yang aku dapatkan dan sampailah kami di Stasiun Jatinegara.

Aku hendak menunaikan sholat isya, tapi mushola stasiun ditutup hingga aku menunggu bersama beberapa orang lainya. Kami duduk lesehan, mirip orang-orang terlantar..hehe. Setelah mushola dibuka dan kami sholat isya, aku lalu menunggu subuh dan akhirnya aku melanjutkan perjalan ke tempat yang kutuju. Aku sengaja tidak memberitahu orang yang akan kutemui karena ini momen penting. Aku lalu naik ojek yang sebenarnya aku agak kawatir karena belum pernah, tapi aku yakin pasti tidak akan terjadi apa2 dan akupun naik ojek. Hmmmmm dini hari kota Jakarta terasa lenggang dan lumayan sunyi, mungkin 15 menit  lagi suasana seperti kala itu sudah berubah drastis.

Subhanalloh, aku sampai dengan selamat dan tepat waktu. Aku datang dan waktu itu ibu mertuaku sedang di teras rumah, wauww sangat kebetulan. Aku dibukakan pintu dan masuk, aku langsung menuju kamar suamiku untuk momen ini. Ini adalah ulang tahunya...yeaaaay surpriseee aku dataang....

Aku membangunkanya dan dia menikmati kedatanganku meskipun tanpa kado ditanganku...
Hanya kemudian aku menyelipkan tulisan dibawah ini di laptopnya yang aku harap saat ia membukanya di kantor, ia bahagia :

Happy Birthday...Happy Birthday.....
Hari ulang tahunmu tiba dan aku benar-benar tidak tahu apakah kado istimewa yang tepat untuk kamu. Aku tidak bisa membuat apa-apa dengan tangan tak berbakat ini. Aku juga tak bisa membelikanmu apa-apa. Aku sudah bertanya kepada udara : “udara, kado apa yang bisa kuberikan untuk suamiku?” Ia menjawab : ”Berikan aku wewangianmu untuk kukirimkan kesana”. Ah, jawaban itu tidak masuk akal. Bagaimana bisa aku memakai wangi-wangian lalu wangiku dibawa udara ke tempatmu? Lalu aku bertanya pada langit-langit kamar : “Tahukah kau, kado apa yang bisa kuberikan pada suamiku?” Ia berfikir. Satu hari, dua hari, tiga hari, masih berfikir dan belum menjawab pertanyaanku. Dinding yang mendengar tanyaku pada langit-langit kamar tiba-tiba memberi saran : “Sebaiknya kau hancurkan saja aku, supaya dia bisa melihatmu menyanyikan lagu ulang tahun dari sini”. Kemudian langit-langit kamar menimpali : “Tidak, tidak mungkin itu mustahil. Lebih baik kau turunkan aku dan kau akan bisa melihat bintang yang sama dengannya, lalu berikan pesanmu pada bintang itu katakan “selamat ulang tahun”, cahayanya akan sampai padanya bersamaan dengan pesanmu.
 Ah aku tidak mengerti dengan ide-ide tidak masuk akal dari mereka semua. Harus bertanya pada siapa lagi aku? Aku malu bertanya kepada Tuhan tentang ini, karena Ia lebih berwenang menghadiahimu nikmat yang tak terhitung. Kalau sudah begini, matilah aku yang tak punya apa-apa ini.
Tiba-tiba, sesuatu bergerak-gerak di dalam perut dan menyeloteh : “Aba ulang tahun ya? Aku mau ngucapin selamat ulang tahun buat Aba, juga mau ngucapin terimakasih karena selalu sayang sama aku, selalu semangat kerja buat aku, dan memberikan yang terbaik untuk aku. Ayo Ummah kita kesanaaaa aaaaa”.
Wah, dede kecilku menangis...tapi, bukankah ini jawabanya? Yap, cerdas....aku tidak perlu mengirim wewangian lewat udara ataupun menghancurkan dinding-dinding, dan menurunkan langit-langit kamar untuk mengucapkan selamat ulang tahun padamu. Aku hanya perlu mendoakanmu dan menuruti dede kecil ini. Karena Tuhan yang bisa memberikan kebahagiaan untukmu, mungkin salah satunya dengan perantara calon bayi ini. Kami mencintaimu sayang, selamat ulang tahun..semoga Allah memberkahi sisa umurmu, semoga tercapai apa yang kamu cita-citakan dan semoga tetap sayang selalu sama kami. Aamiin....

Ketika hati bicara cinta
Hanya cinta sejati maksudnya
Yang menimbun rindu kala tak ada
Dan menyimpan doa jika berbunga

Stasiun dan bandara hanya sekedar penguat
Hujanpun  jadi pengingat
Bahwa benar kaulah cintaku
Cinta bukan cinta maya

Dan kini tak lagi kudapatkan kata cinta
Untuk sekadar mengatakan aku cinta kamu
Karena cintaku tak berkata
Ia hanya bersemayam dalam dada


By : Your Wife & Child


Hanya itu yang bisa kuberikan, bahagiamu adalah segalanya bagiku sayang.....

Selasa, 05 November 2013

City Walk : cinta yang tak beralasan


Saat kata ‘Solo’ terdengar di telinga, hanya satu ingatan kuat yang tiba-tiba muncul memenuhi isi kepalaku : City Walk. Sebuah jalan yang telah menyaksikan kedatangan kami di kota Solo dengan perasaan gembira nan ceria.
Berbekal dengan sebongkah semangat, beberapa lembar uang ala kantong mahasiswa dan sebentuk keberanian kecil model perantau tingkat provinsi, kami bertolak ke Solo lewat kereta andalan anak muda pencari ilmu yang bernama Prameks. Lempuyangan-Solo Balapan, bukanlah perjalanan yang memakan waktu lama sehingga latar dibalik jendela kereta masih tetap sama dengan saat kami naik, terang terpancari sinar mentari. Jam setengah satu siang kami sampai, satu setengah jam dari waktu keberangkatan.
Kami bertiga (Aku, Nurul, dan Karomah) yang merasa sebagai mahasiswi kurang pengalaman ini langsung mengabadikan foto stasiun Balapan Solo yang notabene sangat terkenal pada masa kejayaan Didi Kempot. Kemudian kami segera melanjutkan perjalanan setelah sholat di Mushola stasiun.
Kami menuju Pasar Klewer dengan menaiki angkutan umum bis kecil. Beruntung kami merasa menjadi pengunjung yang tidak tahu apakah punya kesempatan lagi ke Solo atau tidak, sehingga kami seolah-olah merekam dengan jeli setiap jalan dengan mata dan ingatan kami. Karena angkutan kota tidak sampai pada tujuan kami, kami harus mencari angkutan lagi dengan berjalan kaki. Kami kemudian naik Trans Solo batik. Bertemu dengan seorang pria ramah di bus memberi kesan tersendiri bagi kami yang terbilang cupu ini, apalagi bagi seorang penulis ulung sekelas Nurul, pria itu menjadi inspirasi sendiri untuk sebuah cerpen ciptaannya.
Kami sampai di dekat patung Slamet Riyadi dan langsung mengabadikan fotonya. Lalu, kami menyebrang jalan dan menuju Pasar yang kami cari. Sebenarnya sih tidak ada yang kami cari di pasar Klewer itu, hanya saja kami membutuhkan destinasi yang jelas untuk perjalanan kami. Sebelum sampai pasar, kami melewati alun-alun kota Solo. Alun-alunya cukup ramai karena akan ada acara di sana. Melihat dari jalan, gapura, alun-alun, dan bangunan-bangunan kunonya, kami menyimpulkan bahwa Solo bukan kota yang jauh berbeda dengan Jogja : kota berbudaya.
Selesai mengelilingi Pasar Klewer, kami mampir menuju alun-alun dan kemudian sholat di Masjid Agung dekat alun-alun. Merasa belum puas karena perjalanan hanya biasa-biasa saja, kamipun berinisiatif untuk melakukan hal yang lebih menantang. Kami berencana pulang ke stasiun Balapan dengan berjalan kaki.
Kami memulai menapakan alas sepatu kami di jalan dengan penuh keyakinan. Dan melewati City Walk akan membuatku menyesal jika tadi tidak mengambil keputusan untuk pulang dengan berjalan kaki. Sepanjang jalan yang benar-benar mengagumkan. Aku kagum dengan pemerintah yang memberikan fasilitas kepada para pejalan kaki untuk menikmati aktifitasnya. Tak ada jalan semacam itu di kota kami sehingga mungkin kami mengaguminya secara berlebihan. Namun, tidak berlebihan jika aku jatuh cinta pada City Walknya, seperti cinta seorang pecinta, yang tidak punya alasan untuk mencintai seseorang. 

Kami menikmati perjalanan dengan kaki kami di sepanjang City Walk hingga hari pun hampir gelap. Kami lalu memotong jalan dengan sekedar mengira-ngira bahwa jalan di seberang sana adalah alternatif jalan menuju stasiun Balapan. Ternyata, rekaman tentang jalan yang kami lalui saat naik bus di awal perjalanan tadi sangat membantu kami di perjalanan pulang ini.Kami akhirnya menemukan jalan pulang ke stasiun setelah menunaikan sholat maghrib di sebuah mushola karena bantuan seorang bapak di museum pers yang menunjukkan arah ke stasiun.






Tiket kereta Prameks



Karcis sepeda di stasiun Lempuyangan 



Sampai stasiun

Bagian depan stasiun
di depan patung : Nurul, dan Aku








Aku dan Karomah di Alun-alun Solo

di depan Masjid Agung


Karomah, Aku, Nurul

City Walk









Bapak yang menunjukan arah ke stasiun

Stasiun Solo Balapan di malam hari

Rabu, 08 Mei 2013

Lanjutan Road To Semarang yaa...


Langsung lanjutkan malam kami di Indomart pinggir jalan kota Semarang yaa.. sebelumnya, biar nyambung bisa baca ini dulu : http://bbusmilelalala.blogspot.com/2013/04/road-to-semarang.html
Malam begitu terasa panjang, hingga pagi enggan bertandang. Kami hanya memperhatikan beberapa kendaraan yang lalu lalang sampai pada akhirnya ngantuk tak terhalang. 

Kami juga memperhatikan setiap orang yang lewat, masuk keluar indomart. Kami menerka-nerka tentang kehidupan mereka, senang sekali memperhatikan aktivitas orang. Itulah hobi kami juga. Pada akhirnya segerombolan orang bersepeda dengan muka tertutup topeng putih seperti pantomim datang ke indomart. Kami sedikit takut loh, mereka agak menyeramkan. Bukan takut yang bagaimana, tapi kami takut dijahati,hehe. 
Ternyata mereka membeli aqua, dan akhirnya pergi. Sebelum pergi, ada segerombolan polisi yang sedang berpatroli di jalan. Segerombolan pantomim itu menyapa polisi-polisi itu coba. Tak kira mereka jahat, tapi nyatanya mereka akrab sama polisi2 itu, berarti mereka baik yah..#asumsi ngawur
Kemudian, kami menunggu dan terus menunggu pagi, nyanyi dulu yuk siapa yang tahu lagu ini? :

Apa yang terjadi dengan hatiku
Kumasih disini menunggu pagi
Seakan letih tak menggangguku
Kumasih terjaga menunggu pagi
Na..na..na..na..na..Na..na..na..na..na..
Malam begini, malam tetap bengini
Entah mengapa, pagi enggan kembali

Hehe, aku tidak tahan mengantuk ni...akhirnya aku tidur dengan kepala kubebankan pada meja. Nurul tidak bisa tidur atau karena takut ya? Dan kenapa juga aku bisa tidur di saat-saat seperti ini? Hehe, ya ga tau kenapa, dimana ada kebosanan di situ ada ngantuk. Karena bosan menunggu yasudah tidur saja biar cepet paginya dah.

Sekitar setengah jam atau satu jam kemudian aku bangun, lalu aku membeli roti dan sikat gigi di Indomart. Waktu membayar, penjualnya tanya : "Mba nunggu jemputan apa?" ..Haha, rupanya dia penasaran dengan apa yang kami lakukan sejak tadi di depan tokonya. Kalo boleh jujur, aku mau bilang "kami lagi nunggu pagi mas" hehe, sayangnya kata-kata itu ga keluar dari bibir dan aku hanya bilang "enggak". 
Mungkin tidak hanya dia yang penasaran, semua orang yang melihat kami sejak di Tugu Muda malam-malam sampai orang-orang di Indomart pasti bertanya-tanya dalam hati. Habisnya kami itu penampilanya sangat kontras dengan mereka-mereka(Bisa dibayangkan kan?). Apalagi yang di Indomart, semua nya adalah laki-laki. 

Akhirnya jam sudah menunjukkan pukul 03.30, kami mencari Masjid untuk menunaikan shalat subuh. Kami berjalan ke arah simpang lima lagi. Wuuuuuushhhhhh, suara angin mengikuti langkah kami. Tiba-tiba...
Sekelebat bayangn hitam muncul....wow?/
Kami lumayan takut (lumayan loh, kami kan pemberani), iya ada orang naik motor, kami takut mereka mencegat kami, jalanan sepi sekali. 
Kami menemukan pom bensin, kami rencana mau sholat di situ. Sayangnya, toilet sangat gelap dan kotor. Aku tidak mauu. Kami berjalan lagi, menuju masjid di simpang lima tadi. 

Akhirnya sampai juga kami, dan waww kami akan mandi teman-teman....yeeee
Seperti kekeringan bertahun-tahun, begitu melihat air, mata kami langsung bersinar. Acara mandi, selesai tepat dengan mulainya waktu subuh. Kami sholat, dan istirahat sejenak.
minum dulu teman
 Kami sekarang sudah segar dan siap melanjutkan perjalanan lagii....
bye bye masjid simpang lima


Kami menuju simpang lima lagi, nyari makan. 
Simpang lima sepi, semua warung makan tutup..soalnya hari Natal. Kami hanya muter-muter tanpa hasil. Kami masih semangat kok, dan kami melanjutkan pergi ke arah Tugu Muda lagi setelah putus asa dengan kaki yang pegal-pegal. Kamipun naik angkot oren. Oiya, kami ditipu pak angkotnya, kami ngasih uang 5000 ga dikasih kembalian (dipikir kami ga tau ya pa, kan tarifnya 2000 per orang...hahaha)

Ternyata di daerah Tugu Muda juga tidak ada penjual apa apa,,hiks hiks. Kami akhirnya berjalan lagi mengikuti arah angin..panjang...panjang sekali jalanan itu dan tidak juga mendatangkan titing terang, kecuali setelah beberapa kilometer. Kami menemukan angkringan...akhirnyaa. Kami makan nasi kucing seadanya, dan energi kami kembali terisi (walau belum penuh, yaiyalah nasi angkring itu bukan porsi kami : haha). Kami berjalan lagi, dan lagi. Kami melewati daerah pemerintahan, waoww. Ada mall, novotel, gedung-gedung pemerintahan peninggalan penjajah, dan banyak-banyak lainya, tapi tutup semua...hahaha. 


Dan yang paling membuat kami shock dan tercengang adalah......tereng...tereng,,,,,kami tiba di  Kota Lama lagi. Tidak kami sangka, dan kami sempat bengong beberapa saat. Sayang, berhubung hape mati, tidak ada dokumentasi nih (kasiannya masa traveler ga punya kamera : biarin :p).

Kami mencari-cari Pasar Johar karena katanya ada di daerah itu. Kami ditawari becak, dan seperti biasa kami menolak (Masih kuat jalan kok). Kami tiba di Pasar Johar lo...Kami hanya melihat-lihat situasi, dan aku membeli sandal jepit bermerk S****w karena sepatuku tidak enak dipakai(haha). 

Setelah malamnya kami mengamati kehidupan malam para orang-orang kece, paginya kami mengakrabi suasana serba kekurangan di daerah pasar. Beberapa tempat menyajikan pemandangan penghuni area Pasar Johar dan Kota Lama yang tidak menyejukkan jika kalian pandang, tapi bagi kami iru tetap menarik : Ya, itu membuat kami bersyukur dengan keadaan kami saat ini yang alhamdulillah cukup. 

Mungkin inilah yang dimaksud dengan perjalanan, dan mungkin  inilah yang di cari para pengembara : perjalanan untuk mencari hikmah kehidupan. Mengamati kehidupan dari segala sisi, dari berbagai sudut pandang. 

Setelah kami puas, kami mencari tempat lain lagi. Kami menuju Stasiun Tawang, masih dengan berjalan kaki. Kami ingin pulang dengan kereta, tapi gagal. Tidak ada kereta menuju Jogja,hiks hiks. Stasiun Tawang arsitekturnya masih berupa peninggalan penjajah, bangunanya unik loh. Di sana, kami duduk-duduk sebentar karena kelelahan (Oh tidak, pantang lelah untuk petualang sejati!). 
Kami melihat ini : 
ini dia foto terakhir yang masih bisa diambil, ibu2 itu lagi makan tau : kasihan



Iya, Ibu2 itu kerepotan makanya, kenapa? tidak tahu aku. Lihat, barang bawaanya banyak sekali.

Kami melanjutkan perjalanan lagi,haaah. Kami menuju pelabuhan Tanjung Mas. Kami disuguhi dengan perairan yang membentang di kota Semarang. Tidak terlalu memanjakan mata sih, tapi cukup membuka mata lagi tentang suasana di daerah sana. Ya, seperti itulah. Kami mencoba memahami kehidupan yang berbeda lagi antara : Terminal, Stasiun, dan Pelabuhan, dan kehidupan di Jalan, Kota, Pasar. 

Kami tinggal berjalan menuju terminal lagi atau apa yang dapat membuat kami sampai Jogja. Kami berjalan-jalan terus, melewati gereja-gereja yang berjajar-jajar di sepanjang jalan, bahkan kami melewati universitas pastur : kami mencoba memahami kehidupan itu juga, ternyata selama ini mata kami belum terbuka dengan suasana seperti itu. Betapa sempitnya kehidupan yang kami jalani selama ini. 
Kami sempat kelelahan lagi, kepanasan, sampai Nurul pusing. Akhirnya kami menemukan angkutan umum, dan kami menuju suatu alamat di tiket bus yang kami tumpaki kemarin. Haha, kami sampai di tempat travel. Kami makan dulu sambil menunggu travel datang, kami makan di warung padang. Wah, kali ini porsinya terlalu banyak, sangat bertolak belakang dengan nasi kucing : begitu pula budget yang dikeluarkan...hehe. 

Kami lalu shalat dhuhur. Kami shalat di Masjid berwarna hijau. Masjid terakhir pada petualangan kami. Sepi...sepi sekali masjidnya. 
Selesai, kami lalu kembali ke tempat travel, dan menunggu hingga datanglah travel itu. Haaa....ternyata kendaraan itu lebih menyiksa daripada bus yang awal tadi..hiks hiks......


Hingga akhinya sampai kami di Jogja dengan alhamdulillah selamat, aku kembali pulang ke tempat asalku dengan 'fetchy'ku yang macho.....dan aku tersadar : "Betapa nikmatnyaa bersepeda di Jogja ya Allah.....Alhamdulillah".

Sampai ketemu di petualangan selanjutnya yaa.....



Stay Yaa

Tunggu postingan lanjutan "Road to Semarang" yang gila abis, di tambah asikkin "Sepatu Kami Menciumi Aspal Solo"


Jumat, 12 April 2013

Road to Semarang

Sebenarnya sudah sejak lama ingin menpost cerita travelling ini. Karena belum selesai, jadi tertunda terus...
Tapi kali ini, aku bingung mau posting apa jadi, aku post ini deh meski belum selesai lhooo...hehe



Senin 24 Desember 2012, dua anak ingusan bernama Nurul dan Umamah melakukan perjalanan ke sebuah kota yang lumayan tenar. Kenapa tenar? Karena kota ini dinobatkan sebagai Ibu Kota Jawa Tengah. Dengan berbekal sedikit uang, dan secuil kertas berisikan nama tempat yang akan dikunjugi, kemudian tentu saja bermodal kenekatan tingkat tinggi mereka melangkahkan kakinya menuju halte bus Trans Jogja. Lalu, langsung saja mereka menyebutkan nama tujuan mereka pertama kali, yaitu Terminal Jombor. Namun, karena Trans Jogja arah Jombor terlalu lama, mereka disuruh naik angkot kecil oleh petugas Trans Jogja. Karena mereka masih polos-polos banget, jadi mereka akhirnya mau saja. Jadilah mereka naik angkot jurusan Terminal Jombor. Mereke berdua terpana dan terkagum-kagum melihat jalanan yang mereka belum pernah melaluinya. Batin mereka, Jogja saja belum habis dijelajahi sudah bernafsu melahap Semarang.
Inilah petikan kisah selanjutnya dari sudut pandang pelaku yaitu salah satu anak ingusan tersebut yang bernama Umamah.
Sudah sampai Jombor, ternyata jauh juga teman-teman. Tadi sempat terkagum-kagum melewati sepanjang jalan yang belum pernah ku lalui. Aku lewat Taman Lampion, Kampus UGM, dan lain-lain. Sekarang waktunya turun dari angkot.....
Eh,eh sendal Nurul putus. Wah, belum apa-apa sudah begini,jangan-jangan kami tidak diridhoi,tapi, tujuan kami baik kok teman-teman. Kami ingin mencari pengalaman menggelandang di sana untuk bahan menulis. Kan kata Pak Hairus Salim kita disuruh sering jalan-jalan untuk membuka mata pada dunia dan mencari hikmah di dalamnya yang kemudian kita tuangkan dalam kehidupan.
Lanjutt...
Masalah sandal putus akhirnya terselesaikan dengan membeli sandal jepit bermerk ****** dengan harga sembilan ribu rupiah. Kemudian, kami melanjutkan misi berikutnya. Yak, kami naik Bus Patas untuk menuju Semarang. Meskipun visi kami : Pergi ke tempat yang sebanyak-banyaknya dengan biaya sekecil-kecilnya, tapi kami tetap menjaga diri kami dari mabuk kendaraan meski itu artinya  agak kurang sesuai dengan dompet kami. Kamipun melaju menuju Semarang pada pukul setengah sebelas pagi.
Seperti biasa, perjalanan dengan bus memang tidak menyenangkan bagi kami. Namun itu sudah menjadi resiko atas tekad kami. Awalnya kami duduk di bagian depan, posisinya sangat enak. Namun, setelah penumpang yang berwenang duduk di situ datang, akhirnya kami disuruh pindah ke belakang. Aku duduk disamping kakek-kakek yang sedang asyik bercerita dengan cucunya. Nurul duduk di bangku belakang aku. Nampaknya si kakek tidak menginginkan sedikit ngobrol denganku, jadi aku diam saja. Lagi pula aku juga sedang tidak ingin berbicara. Ini karena efek naik bus.
Lalu, si kakek sudah sampai pada tujuanya. Sekarang seorang pemuda duduk di sampingku. Aku tetap tidak berkata sepatah katapun. Bahkan aku tidak melihat orang itu. Aku masih merasakan tidak enak pada perut dan kepalaku. Sempat kudengar pemuda itu menelfon temannya. Suaranya merdu, gaya bicaranya juga bagus. Tapi agak lebay. Waktu selesai menelfon temannya, si pemuda menelfon pacarnya. Apa coba kata yang pertama dia ucapkan?
“ Sayang.....” Hahaha, aku tertawa dalam hati. Kenapa tertawa? Suka-suka aku dong,hehe
Selanjutnya dia berbicara dengan Bahasa Indonesia, padahal tadi waktu ngobrol dengan temannya, ia bicara dengan Bahasa Jawa. Mungkin saja pacarnya bukan orang jawa kali yah. Lalu, apa pentingnya ya buatku?hehe..
Lanjut....
Kami belum sampai juga. Kami saja bingung mau turun dimana. Menurut temanku, yang dekat pusat kota itu Terminal Terboyo, tapi tadi katanya aku disuruh turun di Sukun. Aku bingung, perasaan Sukun itu belum terlewati. Kemudian aku melihat plang-plang di pinggir jalan. Aku melihat ada plang Tugu Muda dan Pasar Johar. Sepertinya itu nama-nama tempat yang terdaftar dalam daftar kunjungan kami. Akhirnya kami memutuskan untuk turun di tujuan paling akhir bus itu.
Lalu, sampailah kami di Terminal Terboyo...tereng..terengg....
Terminalnya jelek sekali, panas, kotor,ih tidak enak. Lalu kami buru-buru sholat dhuhur, padahal sudah jam tiga kurang. Daripada tidak sholat, hehe. Selesai sholat, Nurul dikejutkan dengan hp nya yang hilang. Aku masih agak santai, mungkin hp itu hanya terselip. Lalu keadaanpun semakin genting, ternyata hpnya  benar-benar hilang. Hff   
Nurul tampak bingung, aku kasihan juga. Kamipun mencoba mencari-cari bus yang baru kami kendarai, namun tidak ada hasilnya. Bahkan kami menghubungi agen bus tersebut dan akhirnya kata agen bus tersebut, dipastikan hp Nurul benar-benar hilang.
Selanjutnya kami pasrah atas hilangnya hp Nurul. Sebagai suatu pelajaran sajalah.Setelah mendapat bimbingan orang-orang sekitar, akhirnya kami putuskan untuk menaiki angkot arah Tugu Muda. Kami lanjutkan perjalanan kami dengan menaiki angkot kecil berwarna oren, sebelumnya kami menyeberang dulu di jembatan layang, hehe ini untuk pertama kalinya bagiku jadi aku mengabadikanya, lihat :
 


 Tahukah kawan? Ternyata secuil kertas yang berisikan nama-nama tempat tujuan kami hilang...dan.. kami benar-benar tidak punya panduan lagi. Kami hanya hafal beberapa tempat tujuan kami yaitu : Kota Lama, Simpang Lima,  Pasar Johar, Tugu Muda, dan Lawang Sewu.
Angkot yang kami tumpangi ternyata hanya sampai Kantor Pos, haduh dimana lagi itu. Tapi ternyata kantor pos itu letaknya di daerah Kota Lama. Kamipun turun, lalu kami bingung lagi. Tapi, sembari bingung, kami sempatkan foto-foto dule,hehe.

 

Setelah berbingung-bingung ria dan karena hari hampir gelap dan burung hantu mulai bersiap-siap berjaga, maka.....kami putuskan melanjutkan perjalanan ke Simpang Lima dengan naik becak. Wow. Lumayan ada kenang2an naik becak di Semarang yah...

Sampailah kita di Simpang Lima, lalu kami langsung bergegas menuju masjid...hehe maklum, anak sholeh :D


  
muka kami sudah kunyus kunyuss,hehe alhamdulillah  tenang sudah sholat.



















Setelah selesai, kami melanjutkan acara petualangan ini. Kami berjalan ke alun-alun Simpang Lima. Emm, ternyata ada lima jalan yang bermuara di alun-alun ini pantas saja dinamakan Simpang Lima.

hmm kami bingung lagi nihh............(duh jadi orang kok bingung terus yah)

Kami berjalan mengikuti arah angin, berjalan, berjalan, berjalan dengan sedikit ketakutan tentang kejamnya kota besar. Tiba-tiba, secercah harapan muncul di depan mata. Terlihat tanda-tanda keramaian di depan sana. Kami menuju ke arah keramaian, ternyata benar. Dan inilah Tugu Muda...wow this is really bagpacking. 

Ketika kami menyeberang ke arah Tugu Muda, ternyata di seberang jalan ada sebuah gedung yang terkenal di Semarang. Itu adalah Lawang Sewu....awalnya kami ingin masuk, tapi sudah mau tutup.
 

....
....Di situ, kami duduk-duduk sebentar, dan tiba-tiba datanglah beberapa pria setengah baya dengan busana sama. Mereka adalah boy band (kata Nurul),,,hehe, tapi mereka bawa pentungan..lihat tuh...
Kami menuju Tugu Muda, disana, kami menemui berbagai macam pemandangan yang jarang kami jumpai...
Di situ, banyak anak-anak punk yang entah mereka sedang bermain apa, makan kacang, minum (padahal minum air mineral,hehe). Sebenarnya jujur dari hati yang terdalam, kami ingin bergabung (hehehe), tapi malu lah, nanti dikira anak hilang :D

Di situ juga banyak orang pacaran, duh mereka pada memamerkan kemesraan di depan anak kecil seperti kita Rul (bhehehehe). Mendingan kita ngopi aja yuk, begitu ajak Nurul akhirnya. Iya, waktu itu Nurul ternyata masih merasakan efek naik bus, ia ingin minum anget-anget, sekalian minta perlindungan sama bapak penjual kopinya. Loh, perlindungan apa?
Ya, setidaknya bapak penjual kopi itu pasti baik, pasti juga beliau kenal dengan orang-orang yang nongkrong di situ, kita duduk di dekat bapak itu supaya tidak dijahati,hehe Nurul pintar kaan.....
  itu loh bapak penjual kopinya...itu satu-satunya penjual di daerah Tugu Muda malam itu.
"Hmm kamu tau ga rul, aku biasanya kalo minum kopi sakit perut, semoga kali ini engga ya...habisnya ga ada kamar mandi di sini"... Nurul : "Haha, sama, aku juga biasanya sakit perut loh kalo minum kopi,aku juga takut nih"

 
Hari semakin malam, keramaian semakin  menjadi senyap...dan para pemuda-pemudi yang tengah dilanda gejolak jiwa mudanya satu demi satu mengundurkan diri dari tempat itu . Namun, para penjaja suara malah semakin silih berganti menyambangi kami. Dari anak kecil dengan busana seadanya hingga pemuda berpenampilan gaya jaman sekarang seperti di foto ini.

Jam di hp sudah menunjukkan pukul 12 malam, kami berdua semakin merasa tidak aman, dan tiba-tiba....gerimis datang, para pemuda yang tersisa di area Tugu Muda berhamburan ke segala arah. Kami bingung, kami akan selalu mencari keramaian demi keamanan, dengan begitu kami mengikuti gerombolan yang paling banyak.

Ternyata, gerombolan itu mereka menuju kendaraan mereka masing-masing. Wah, kami terjebak. Kami berjalan mengikuti arah angin lagi.
"Seharusnya kita nyari Indomaret" kata Nurul. "Oiya, kan buka 24 jam ya, bisa buat berteduh dan mengamankan diri".

Baru diomongkan, ternyata kami diberi pertolongan oleh Yang Maha Kuasa, yaitu dengan adanya Indomart di depan mata kami. 

Kami membeli makanan, lalu duduk-duduk di emperanya. Di situ banyak pemuda-pemuda sedang menikmati malamnya, sambil duduk-duduk dan memakan cemilan-cemilan. Entah, mungkin mereka sedang berfikir sesuatu tengah malam begini.

Tau nggak??? Pas kami ngobrol-ngobrol, penjual Indomart keluar untuk membeli nasi goreng. Dia itu kok kaya malu-malu pas di depan kami, ternyata setelah kami perhatikan gerak geriknya, dia menyimpan sebuah rahasia besar. YAituuuuuu...... Mau beli nasi goreng, tapi ini udah bawa telor sendiri (ngambil di toko).hahaha Sebenarnya tuh kami pengin ketawa, tapi ya tengah malem gini nanti takutnya dikira kuntilanak lagiii....

Bersambung dulu ya....masih banyak ni ceritanya....